akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Menggapai Puncak Sumbing


Pendakian Sumbing sebenarnya merupakan pendakian ‘dadakan’ karena rencana semula adalah ke Gunung Slamet. Namun karena beberapa faktor terpaksa banting setir menuju Gunung Sumbing. Logistik yang dipersiapan merupakan perbekalan menuju Slamet sehingga tergolong melimpah. Pendakian ini seakan mengulang pendakian Sundoro karena timnya merupakan dynamic duo, aku dan Ignasius.

Pendakian Sumbing ini melaui jalur yang paling populer yaitu jalur Garung. Jalur Garung menjadi pilihan favorit para pendaki karena kemudahan aksesibilitas. Sebenarnya ingin merasakan perjalanan menggunakan angkutan umum, namun karena menimbang keluwesan waktu, maka diputuskan menggunakan kendaraan pribadi. Tak seperti pendakian Sundoro, lalu lintas kali ini lebih bersahabat. Dan berbekal pengalaman Sundoro, kami mencari bekal makan malam yang lebih awet dan akhirnya memutuskan untuk membeli nasi rendang.

Tiba di Basecamp Pendakian pukul 14.00 WIB, kami langsung melakukan persiapan pendakian. Basecamp cukup ramai karena ada dua rombongan yang baru saja turun dan satu rombongan yang akan mendaki. Basecamp Garung tipikal basecamp di Jawa tengah, berupa rumah yang dimanfaatkan untuk tempat pendaftaran dengan ruang untuk transit pendaki yang sederhana, beralaskan terpal. Yang menarik adalah para pendaki mendapat peta jalur pendakian beserta keterangannya yang cukup informatif. Ide ini tercetus untuk mengurangi resiko nyasarnya para pendaki. Sebuah inisiatif yang bagus.

Jam 3 minus 10 menit, kami mulai pendakian. Pada 1,5 km pertama pendakian masih berada pada kawasan permukiman. Karena masih sore, masih banyak aktivitas warga di permukiman. Mereka tampaknya sudah sangat terbiasa dengan lalu lalang para pendaki. Umumnya sapaan mereka ke para pendaki adalah “muncak mas??” dengan senyum ringan. Setelah melewati sebuah jembatan, pendakian memasuki kawasan ladang dan perkebunan warga, yang didominasi dengan tanaman tembakau. Jalan dilalui masih berupa jalan makadam dengan tanjakan yang cukup landai, namun panjang. 

papan untuk area kreatif para pendaki

menara tvri, penanda ds. Garung yang berada di tepi jalan aspal

suasana permukiman di sore hari

1,5 jam perjalanan belum juga tiba di pos 1, terasa cukup panjang perjalanan ini, untung saja jalur makadam ini lebih variatif pemandangannya dibandingkan makadam perkebunan pendakian Sundoro, karena menyusuri punggungan bukit. Memasuki bosweisen, perbatasan ladang dan hutan, terdapat sebuah flying camp, yang cukup untuk 2 – 3 tenda. Kemudian tak jauh berjalan, terdapat sebuah jalur aliran air dengan air yang menggenang, yang dapat dimanfaatkan untuk mata air. 5 menit berjalan dari mata air akhirnya tiba di Pos 1, yang ditandai dengan berbagai palang penunjuk. Di pos 1 ini hanya beristirahat untuk mengambil napas, tak ingin berlama lama karena hari mulai senja.

narsis di sumber air

peninggalan klub outdoor bank Mandiri, Jelajah Alam Mandiri (kini Mandiri Club Adventure)

Perjalanan menuju pos 2 sepenuhnya berada di tengah hutan. Headlamp segera dipasang, jaket fleece segera dipakai, kupluk mulai dikenakan, dan perjalanan menuju pos 2 segera dimulai. Langkah cukup cepat karena kami berdua sepakat untuk makan malam di pos 2, jadi ada target yang harus segera di capai. 1,5 jam kurang perjalanan, akhirnya kami sampai di pos 2. Segeralah dikeluarkan makan malam dengan menu spesial….rendang!!!. Kali ini kami memutuskan untuk membawa nasi dan lauk dari bawah. Untuk mencegah nasi yang dingin, maka jam makan dimajukan yaitu di tengah perjalanan, bukan pada saat berkemah, seperti pendakian pendakian sebelumnya. Makan rendang pada ketinggian 2000+ mdpl itu memang enak…serasa masakan padang terlezat di dunia. Ketika asik menyantap menu istimewa ini, rombongan pendakian massal dari semarang melintas di pos 2, kami hanya bertegus sapa tanpa bisa melihat dengan jelas satu sama lain. 

Perjalanan Pos II Gatakan menuju Pestan sangat terjal…ditambah kantuk yang mulai menyerang, hasilnya perjalanan ini terasa panjang. Pukul 21.00 tiba di Pestan..cukup sepi walaupun hari itu adalah akhir pekan. Hanya terdapat 1 tenda dengan 4 pendaki. Guna mengejar target berkemah di Watukotak, kami hanya istirahat sebentar sambil mengobrol bersama pendaki dari Solo tersebut. Jalur Pestan menuju Watukotak malam itu terasa sangat berat. Ngantuk dan lelah menyebabkan konsentrasi berkurang dan akhirnya kemampuan memilih jalur menjadi menurun. Pemilihan jalur pun hanya terpaku pada jalur yang ada di depan, malas mencari jalur alternatif.

Akhirnya tiba di Watukotak jam 23.30. Igna ingin berkemah tepat di bawah dinding besar, tapi aku sarankan cari dulu tanah yang lebih lapang di sekitar Watukotak. Biasanya di pos pendakian tempat berkemah terdapat tanah lapang yang cukup representatif. Aku mulai membiasakan luangkan waktu 5 – 10 menit pencarian di sekitar pos sebelum mendirikan tenda (pengalaman pendakian Welirang yang buru buru mendirikan tenda tanpa mencari tempat yang nyaman terlebih dahulu). Akhirnya ada tempat yang cukup lapang dan terlindung untuk mendirikan tenda. Rencana membuat minuman hangat di tenda sambil menikmati indahnya malam dari Watukotak buyar karena kami lebih memilih segera masuk ke SB masing masing. 

Sinar matahari yang menembus dinding tenda akhirnya membangunkan kami…momen fajar dari ketinggian pun kami lewatkan… Puji Tuhan malam dilalui tanpa angin kencang, bahkan cenderung tidak berangin. Sedikit malas, akhirnya mulai keluar dari SB jam 05.30. Sarapan bubur instan, sosis dan apel serta susu hangat untuk bekal kalori tubuh menuju puncak. Sebelum memulai perjalanan pukul 06.30, terdapat rombongan Menwa dari Unisula Semarang yang melintas. Hasilnya, perjalanan menuju puncak padat merayap…terkadang macet. Situasi ini kumanfaatkan untuk menikmati pemandangan Sundoro di seberang serta ngemil daun muda cantigi yang banyak dijumpai di jalur menuju puncak. Kurang lebih 1 jam berjalanan dari Watukotak, akhirnya kami mencapai puncak buntu. Pemandangan dari puncak sangat indah, karena terlihat semua gunung yang berada di Jawa tengah, Bahkan Ciremai pun terlihat. Kawah Sumbing yang besar terhampar, dan terdapat rombongan pendaki yang berkemah di dasar kawah. 

stormy di watu kotak

setapak demi setapak menuju puncak

yeahh…

tujuan selanjutnya….

Di puncak, ternyata rombongan Menwa melakukan semacam pelantikan kepada anggota baru. Puncak Sumbing memang menjadi tempat mereka untuk melantik anggota baru. Ketika ngobrol ngobrol, salah satu anggota Menwa bertanya kepadaku bagaimana kiat kiat menghindari dinginnya udara gunung. Berpikir sejenak, melihat dia dengan pakaian PDL ala Menwa, lalu menjawab “ya..bawa pakaian yang tahan dingin dan tenda + SB buat tidur”. Rombongan Menwa ini sangat minimalis, rata rata hanya menggunakan pakaian PDL Menwa, dan jas hujan serta tidak membawa tenda. Mereka hanya bermodalkan onco/jas hujan untuk tidur di Pasar Watu. “Ya kalo bawa tenda bukan pendidikan mas namanya” jawab dia. Dalam hati aku tersenyum, kalo memang bagian dari pendidikan, berarti gagal ni pendidikannya, lha yang udah senior saja masih nanya kiat kiat biar tidak kedinginan walau sudah tiga kali naik dalam kegiatan “pendidikan” ini. Terkadang seringkali pendaki lebih mengejar faktor kepraktisan dengan mengabaikan faktor keselamatan. Banyak alasannya, dari biaya, tenaga, agar terlihat keren, gagah, macho, atau apapun itu. Saya kira mengabaikan faktor keselamatan diri sendiri termasuk egois, karena jika ada apa apa yang repot juga teman seperjalanannya atau pendaki lain yang kebetulan melintas. Inginnya praktis dan mengurangi beban, malah berujung pada merepotkan dan menambah beban orang lain (prinsip ultralight yang salah kaprah).

Acara ngobrol-ngobrol di puncak cukup lama dan akhirnya kami memutuskan turun. Sampai di Watukotak langsung bongkar tenda dan segera turun dengan cuaca yang cukup terik. Pada perjalanan turun ini baru terlihat jalur pendakian dengan jelas. Ternyata terdapat jalur – jalur yang lebih mudah didaki di sisi sisi jalur yang kami gunakan tadi malam. Terasa bodoh kalo mengingat proses pendakian tadi malam yang sampai pada tahap kaki di dada dan dada di kaki. Karena itu aku cenderung melakukan perjalanan siang, sedangkan malam untuk istirahat. Perjalanan malam kadang membuat persepsi kita terhadap jalur terlalu berlebihan (karena tidak bisa orientasi medan dan akhirnya salah milih jalur).

menyapa sundoro

mari turun

Pestan tertutup awan

Sampai di Pestan kami memutuskan untuk melalui jalur lama dengan pertimbangan jarak tempuh yang lebih pendek. Walau lebih pendek, tapi terdapat tanjakan yang sangat terjal yaitu jalur Pos II – Pos III. Untung saja ini merupakan perjalanan turun, jadi tak ada lagi adegan lutut di dada dan dada di lutut. Di perjalanan pos II – pos I terdapat rombongan besar Sispala dari Purbalingga yang sedang melakukan diksar. Salut juga melihat rombongan ini terutama anggota perempuannya, mereka membawa ransel gede-gede, nda kalah ma ransel cowok (nda tau dalemnya, apa cuma gede karena matras ato diisi full).

Memasuki kawasan ladang dan kebun penduduk, jalur pendakian beralih menjadi makadam. Jalur makadam menjadi jalur yang cukup menyiksa karena membuat cenat cenut kaki dan dengkul (terutama bagi igna). Kecepatan jalan pun menurun drastis. Aku langsung ngacir ke depan meninggalkan igna yang berjuang keras melawan makadam. Di jalur makadam ini dapat terlihat jelas kalau tembakau menjadi komoditi utama penduduk di lereng sumbing sundoro ini. Tak heran jika di permukiman penduduk sering dijumpai anyaman bambo di tiap rumah untuk menjemur daun tembakau. Pukul 16.00 akhirnya tiba di Basecamp. Hanya kami pendaki di basecamp kala itu. Berdasarkan penuturan mas Yas, anggota Stickpala yang menjaga Basecamp, Akhir akhir ini waktu pendakian yang ramai adalah malam jumat dan malam sabtu. Pantes ada terasa sepi, tidak seperti mendaki Merbabu kala akhir pekan. Setelah membersihkan bdan, kami segera pamit dan kembali ke Yogyakarta.

Dalam pendakian kali ada beberapa hal yang menarik. Sumbing dikenal dengan kisah mistisnya bahkan ada blog yang membahas hal supernatural yang ada di Sumbing (lengkap dengan petanya!!). Mau tak mau berbagai cerita yang beredar akan membentuk persepsi tersendiri terhadap Gunung Sumbing. Aku selalu ingat sebuah kutipan dari natgeo Traveler “Kau yang mendefinisikan lintasan (pendakian) itu dengan keberanian itu, atau lintasan itu akan mendefinisikan kamu sebagai penakut”. Biarkan kita yang mendefinisikan pendakian kita, dan jadikan cerita cerita yang ada sebatas referensi saja, tanpa harus membentuk persepsi awal yang kadang malah menyesatkan.

Pendakian kali ini juga menjadi pendakian yang sangat sangat surplus logistik makanan. Bagaimana tidak, mendekati Basecamp, air minum yang masih berada di ranselku hamper mencapai 1,5 liter. Mie instan, sop, roti, nata de coco, sereal, sarden bahkan masih utuh. Ini terjadi karena logistik yang dibawa adalah logistik pendakian Gunung Slamet. Memang sih ada anekdot lebih baik berlebih daripada kekurangan, tapi kalo lebihnya terlalu banyak sama aja dengan latihan fisik. Sebuah pengalaman untuk perjalanan-perjalanan berikutnya.

2 comments on “Menggapai Puncak Sumbing

  1. Isaka Pudyananda
    April 3, 2013

    Kalo jalan dari Jogja ke base camp sumbing lewatnya mana ya om?

    • akuntomo
      April 3, 2013

      Kalo bawa kendaraan sendiri lewat jalur ke dieng/wonosobo,om. Jogja-magelang-wtemanggung-onosobo. Ntar setelah parakan, nglewati jalan antara sumbing sindoro. Kiri jlan ada petunjuk basecamp pendakian sumbing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 26, 2012 by in Catatan Perjalanan, Gunung, Sumbing and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: