akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Tragedi Pendakian Massal Semeru 2012


Libur panjang akhir pekan november 2012 kemarin membuat kehebohan dunia pendakian. Semua karena acara jambore yang diselenggarakan salah satu produk petualang yang menyebabkan semeru menjadi seperti pasar malam. Ada yang mencaci pihak avtech (ntah mencaci karena kegiatannya merusak alam atau karena dirinya hampir batal naik karena dilarang TNBTS), ada yang menuduh TNBTS lebih mementingkan uang, ada juga yang bijak menyalahkan semua pihak. Sudah banyak blog, forum FB, berita yang mebahas masalah semeru ini. Mungkin ini sedikit dari pendapatku terhadap tragedi semeru kemarin.

seperti pasar malam

Semua pihak memiliki andil dalam tragedi. Kalu dibahas satu persatu singkatnya seperti ini:

Dari pihak penyelenggara Jambore avtech

–          Melakukan kegiatan tidak sesuai dengan proposal yang diajukan dimana peserta menjadi 1700 orang sedangkan di proposal hanya 600 peserta. Tentu hal ini berakibat pada ketidaksiapan panitia dan petugas TNBTS mengantisipasi lonjakan yang  padat.

twit panitia

–          Embel – embel opsih yang bertujuan untuk melestarikan lingkungan jauh panggang dari api. Pada akhirnya, banyak sampah yang masih tertinggal dan akhirnya dibersihkan beberapa hari kemudian oleh TNBTS, ranger, penduduk setempat dan porter (yang dibayar oleh pihak avtech).

sampah yang tertinggal pasca pendakian massal

–          Embel – embel jambore avtech juga aneh, karena pada 25 – 27 Mei 2012 juga ada acara serupa dengan tajuk JAMBORE PENCINTA ALAM,AKSI BERSIH & PENDAKIAN BERSAMA AVTECH. Jambore kok sering, setahun dua kali?? Modus  mencari keuntungan kalau gini, bukan pelestarian lingkungan

Dari pihak TNBTS

–          Belum adanya prosedur pendakian yang baik dari TNBTS menyebabkan pembatasan jumlah pendaki tidak efektif. Prosedur perijinan masih manual dalam artian para pendaki langsung ke kantor TNBTS di tumpang untuk melakukan pendaftaran pada hari H. belum adanya sistem online dengan batas waktu pendaftaran menyebabkan pihak TNBTS tidak mampu memprakirakan jumlah pendaki yang akan berkunjung.

–          Kurangnya sistem pendaftaran yang tertata menyebabkan pihak TNBTS menghadapi dilema. Jumlah pendaki yang mendaftar pada saat libur panjang bulan november sudah melebihi kuota, yang berarti sudah melebihi daya tampung taman nasional. Penutupan mendadak tentu merugikan banyak pihak terutama para pendaki free lance (non organisasi) yang datang dari luar provinsi. Tetap membuka pendakian akan beresiko merusak ekosistem Taman Nasional. Walau pada akhirnya pihak TNBTS akhirnya membuka penuh pendakian semeru karena desakan pendaki.

pengumuman mendadak dari pihak TNBTS

–          TNBTS kurang tegas terhadap pihak AVTECh yang melanggar proposal kegiatan. Pelanggaran ini tak dapat dipungkiri menyebabkan antisipasi yang ada dari pihak TNBTS meleset, apalagi jumlah peserta menjadi 3x lipat  dari yang diajukan di proposal. Tanpa adanya ketegasan, kejadian serupa dapat terulang.

Dari pihak Pendaki

–          Untuk para pendaki mohon legowo dengan penutupan Semeru, terutama pendaki yang domisilinya masih dekat-dekat semeru. Kalau yang jauh apalagi di luar pulau, wajarlah gondok terhadap penutupan mendadak pendakian semeru. Sumpah serapah pun mengalir ke avtech dan pihak TNBTS kena getahnya juga.

–          Tak dapat dipungkiri banyak pendaki yang datang dan ikut jambore karena magnet bintang tamu yang merupakan tokoh-tokoh dunia petualang. Dan diyakini juga banyak pendaki pemula/pendaki dadakan/pendaki penggembira  yang tidak mempersiapkan diri dengan baik atau tidak mengerti kode etik pendakian (misalnya: ketidaksiapan fisik yang diatasi dengan mencabut tiang penunjuk jalan untuk digunakan sebagai tongkat jalan, mencuci dengan sabun di ranu kumbolo)

antrian panjang

Dan tak lupa juga untuk para komentator seperti saya juga memiliki andil, karena memiliki pengetahuan konservasi tetapi tidak mau aktif terlibat menyebarluaskan etika etika pendakian. Atau mungkin hanya diam atau paling banter hanya komentar ketika melihat pendakian yang lebih mengarah pada eksploitasi alam.

Apakah solusi untuk permasalahan ini agar hal ini tak terulang?. Jawaban “kembali pada diri masing-masing” terlalu klise dan absurd. Perubahan manajemen pengelolaan TNBTS bisa menjadi salah jawaban. Perlu ada aturan dan pengawasan yang ketat untuk pendakian di kawasan Taman Nasional. Minimal seperti di TNGGP dengan sistem reservasi sehingga pembatasan pendakian dapat dikontrol dengan baik. 12-12-12 nanti film 5 cm tayang. Hal ini tentu akan menambah jumlah pendaki yang penasaran akan keindahan semeru. Jika manajemen pendakian masih seperti ini, 10 tahun ke depan ranu kumbolo akan makin gersang, air ranu makin tercemar, edelweiss di kali mati akan berkurang pesat.

Bagi para pendaki, hindarilah pendakian massal. Alam lebih indah dinikmati ketika sepi. Untuk para penyelenggara, hindarilah embel – embel opsih atau yang terkesan pro lingkungan jika pada kenyataanya lebih pada eksploitasi lingkungan. Permasalahan yang timbul pada pendakian massal bukan sekedar sampah, tapi rusaknya ekosistem. Pemahaman konservasi mutlak diperlukan para pendaki.

Sebagai penutup, untuk para pendaki dan pencinta alam, saya mengutip sebuah tulisan tokoh Karen kepada Husin tentang edelweiss Suryakencana dalam novel Sarongge:

“….Kita yang menamakan diri pencinta alam, menjadi ancaman paling berbahaya dari kelestarian alam. Kalaupun tidak menebangi cantigi, tidak membuat api unggun yang bisa membakar padang edelweiss, tenda kita pastilah menutup kemungkinan bibit edelweiss berkembang……..Makin banyak tenda dipasang, makin luas bibit edelweiss yang tak sempat tumbuh…..Kita para pencinta alam hanya bisa menikmati. Tetapi apa yang kita lakukan untuk membayar kembali kepada alam. Termasuk merawat edelweiss di Suryakencana? Tak ada. Kita menutup mata, bahwa bunga abadi di alun-alun itu sedang menuju kepunahan

foto-foto pada tulisan ini berasal dari forum oanc kaskus , info lain terkait pendakian massal ini juga dapat dibaca di forum tersebut. Tulisan lainnya juga bisa dilihat disini

 

21 comments on “Tragedi Pendakian Massal Semeru 2012

  1. dayu
    December 1, 2012

    naahhh…sering-sering berbagi pengetahuan tentang konservasi dan kepecinta-alaman, oom… ^-^
    #ijin share#

    • akuntomo
      December 1, 2012

      gampang..tinggal suruh orang googling aja😀

  2. inten_arsriani
    December 1, 2012

    Reblogged this on an ~ alogiku and commented:
    #savesemeru

  3. Rheyzaurus Guevara
    December 1, 2012

    Loh piye iki???
    Untungnya ngga jadi berangkat…

    • akuntomo
      December 1, 2012

      iyo..mending ke semeru pas sepi aja. Kata kang ari lasso kan ke semeru itu bersama teman mencari damai, bukan mencari ramai

  4. Rheyzaurus Guevara
    December 1, 2012

    Izin share ya mas yo..

  5. ngep
    December 1, 2012

    sistem reservasi sprti di gde pangrango? Mau naik gunung ato naik haji, kok ada pesan tempat sgala? Ada budaya yg mulai hilang, misal: thn 1995 sebuah SMA dlarang naik semeru slama 5thn krn ketika 50an org anak SMA yg turun dr semeru tsb trnyata jumlah sampah yg dbawa tdk sesuai dgn yg dtulis ketika ijin. Thn 1997 ada sepasang pendaki (cowok-cewek)yg direndam dkumbolo slama berjam-jam&dipermalukan di dpan ratusan pendaki lain(hingga menangis) krn mrk ktahuan menyimpan edelweis dtas-nya. Stiap musim pendakian, stiap harinya pasti ada sweeping tenda&tas oleh ranger&relawan utk mencari bukti2 perusakan alam oleh pendaki dkumbolo. Budaya2 pengecekan sampah, mempermalukan para pendaki yg merusak&mengotori alam kini tlah ditinggalkan pdhl budaya2 tsb lebih manjur drpd TNBTS memperumit ijin administrasi atau membuat semeru sprti ka’bah yg hrs “indent”/pesan tempat sblm kita naik. Krn diakui ato tdk, 90% para pendaki yg mengaku PA(Pecinta Alam) sbenarnya adlh preman2 perusak dgn alasan utk menaklukan gunung/alam.

    • akuntomo
      December 1, 2012

      sistem reservasi lebih berfungsi kepada pembatasan pendaki, bukan masalah pesen tempat atau booking ala hotel. Alam punya daya dukung dan daya tampung untuk kegiatan manusia. Coba bayangin kalau TNGPP tanpa sistem reservasi, akhir pekan ada berapa ribu orang yang ndaki?. Saya setuju dengan sweeping dan pemeriksaan ketat ranger..aturan ketat dan keras emang manjur. Orang Indonesia aja kalau ke singapura pasti tertib, karena takut kena denda (tapi balik ke indonesia, kembali ke sifat asli).

  6. ngep
    December 1, 2012

    oh ya, sekedar info. Sbenarnya sblm acara AV-TECH ada perusakan alam yg dlakukan oleh syuting film 5cm. Kebetulan saat syuting film tsb aku lg “dolan” ke kumbolo jd aku bisa melihat & merasakan sendiri perubahan yg terjadi di kumbolo & sepanjang jln menuju kumbolo. Jd slama thn 2012 terjadi 2x perusakan di semeru.

    • akuntomo
      December 1, 2012

      Yup, saya juga mengikuti beritanya. Sangat disayangkan kalau film 5cm yang salah satu tujuannya meningkatkan rasa cinta ke lingkungan tapi malah nebang nebang pohon besar cuma buat api unggun. Saya juga baru sekali ke semeru, pas puasa tahun lalu, jadinya sepi poll, tenang dan damai. Liat foto foto pendakian massal avtech jadi miris.

  7. ngep
    December 1, 2012

    sejak dulu (klo gk salah sejak thn 1990-an) di semeru sudah ada kuota yaitu 600an org tp itu hanya utk dpuncak saja, tp klo utk kalimati&kumbolo terserah brp org. Krn daerah kalimati (trmasuk jambangan) & kumbolo adlh daerah yg sangat luas. Jd klo ada 1500an org masuk semeru maka mrk hrs bergantian utk mencapai puncaknya. Bukan masuk kumbolo/kalimati yg hrs dibatasi tp puncak semeru yg hrs dbatasi. Klo gunung laen yg tdk pnya ruang seluas kalimati&kumbolo ya bener klo ada pembatasan, tp klo pembatasan itu dilakukan kpd kumbolo&kalimati ya tdk tepat.

    • akuntomo
      December 1, 2012

      hm..pembatasan pendaki menurutku bukan berdasarkan luasan ruang yang ada, mungkin ilustrasinya seperti tulisan yang aku kutip di akhir postingan ini. tahun lalu di rakum dekat ranunya masi dijumpai ada edelweiss..mungkin sekarang sudah nda ada, dan tak ada kesempatan untuk berkembang karena lahan yang ada terus terinjak atau tertutup tenda. Seribu orang dengan segala tingkah polahnya sudah cukup mengganggu keseimbangan alam yang ada, Tahun 90an masih banyak belibis di ranu kumbolo, pendakipun masi bisa ketemu macan. Sekarang? mungkin udah takut dengan keberadaan manusia yang ramai. hm..malah jadi seperti kuliah lingkungan, tapi nda papa, saya senang dengan diskusi ini😀

  8. dayu
    December 1, 2012

    wah seruuuu…😀
    mas NGEP…mas PRI…nanti kita ke Semeru ber-4 plus mas TEM aja yuukkk…private #upz…

    pada intinya, (bagi saya) menikmati alam lebih berkualitas saat benar-benar bisa intens dan bersentuhan secara pribadi, bukan dalam kelompok besar, khususnya bila pilih tempatnya yang masuk wilayah konservasi🙂

    daya dukung alam, siklus pemulihan, konservasi alam dan ekowisata tentunya juga keterkaitan yang mesti kita sadari, apalagi sebagai pendaki yang sudah malang melintang (semoga bukan cuma jadi seorang penikmat alam yang tak peduli alam), sudut pandang mari kita buka lebih lebar…

    udah ah, yang jelas desember-april Semeru libur dulu yaaa…kesian para rumput, jalur-jalur dan tanjakan cinta, bunga es, Rakum, edelweiss Semeru merana abis open house kedatangan ribuan para penggemarnya dalam 3 malam. Kasi lah sekarang mereka istirahat untuk kemudian kembali menyambut kita dengan wajahnya yang cantik dan ramah😀

  9. barrykaoemfals
    January 9, 2013

    #ijin share#
    teruskan menjaga alam sekitar kita ,Hidup Bersama Harus DIjaga,Hijau Rindang Sekitar Kita.

    Nyokkk bareng2 kite jage ALAM RAYA……..
    Dimulai dari Diri Kita Sendiri🙂
    SALAM DAMAI KAMI SEPANJANG HARI………

    Nyokkk

  10. bocah petualang
    February 4, 2013

    Kasihan Semeru…😥

  11. Umar destorsy
    October 23, 2013

    Klo begitu siapa yg akan ber tanggung jawab

    • akuntomo
      October 24, 2013

      hayo, yang mau bertanggungjawab silahkan angkat tangan?!:D. Yang pasti yang rugi juga kita kita semua

  12. oj
    August 8, 2015

    Gmna klo kta berkunjung di lebatnya hutan kalimantan. Asik tuh msh alami. Alam gak hrus di gunung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 30, 2012 by in rupa rupa, Sekilas Info, Semeru and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: