akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Welirang via Tretes -Plan D-


Pada awalnya pendakian pada akhir April 2012 ini direncanakan sebagai pendakian ekspedisi dengan target gunung Arjuno dan gunung Welirang dengan alternatif bila dimungkinkan akan melintasi puncak gunung kembar I dan kembar II. Karena pernah mendaki arjuno sebelumnya, maka aku ditugaskan untuk mempersiapkan rencana perjalanan, mulai dari alternatif rute, transportasi hingga logistik. Tentu dengan perencanaan yang cukup lama dan waktu untuk persiapan yang panjang, besar harapan ekspedisi ini akan sukses. Ternyata tidak. Perencanaan yg detail ternyata tidak akan berjalan jika tidak ada persiapan yang maksimal, terutama fisik.

Perjalanan tim yang terdiri dari aku, Ari, Fajrin, Yudi dimulai via surabaya dengan menggunakan bus SK yang tersohor. Berangkat jam 09.30 malam tiba di Bungurasih jam 03.00 pagi. Menghindari tidak adanya angkutan di pandaan maka tim memutuskan beristirahat di terminal hingga jam 5. Lama tidak ke Bungurasih, perubahan yang ada pun tak disadari. Kami mencari bus ekonomi di jalur patas….dan dengan soknya merasa sudah tidak ada lagi bus ekonomi sehingga menaiki patas. Akibatnya budget membengkak. Ternyata jalur bus ekonomi berada di sisi timur terminal.

Dengan menyambung kendaraan angkutan kota dari Terminal Pandaan menuju Tretes (Hotel Tanjung) kami tiba pukul 07.00. Di pos perijinan yang juga menjadi pos Tahura ini para pendaki dapat mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian karena terdapat warung nasi, toko kelomtong dan juga kamar mandi. Hampir lima tahun berlalu dan sangat susah mengingat perubahan yang ada karena memori tentang tempat perijinan sangat sedikit. Pukul 07.30 kami memulai perjalanan. Awalnya cukup terik, namun selepas pet bocor, mendung mulai menyelimuti sehingga sinar matahari tak dapat menembus awan. Jalanan yang menanjak dan berbatu benar benar menguras tenaga.

pembangunan di belakan pos perijinan

Tengah hari sampai di Kopkopan, sebuah tempat lapang yang biasa digunakan untuk berkemah. Pada malam minggu, lokasi ini menjadi tempat favorit menghabiskan malam, sehingga seringkali pendaki yang datang belakangan akan kesulitan mencari ruang untuk mendirikan tenda. Di Kopkopan terdapat warung yang menjajakan makanan seperti mie, kerupuk, pisang dan gorengan. Warung ini hanya buka saat saat pendakian ramai, misalnya hari libur dan akhir pekan. Di Kopkopan in juga terdapat sumber air yang melimpah, yang berasal dari kali kecil.

rehat sejenak di kopkopan dan bertemu rombongan Poltek ITS

Setelah beristirahat sebentar di Kopkopan, disertai makan siang dengan nasi bungkus yang dibawa dari pos perijinan, kami melanjutkan perjalanan menuju Pondokan yang menjadi target perjalanan hari ini. Perjalanan menuju Pondokan cukup menguras energi dan bagi sebagian orang , juga menguras emosi. Kurang lebih 300 meter setelah Kopkopan, kita akan menjumpai tanjakan lurus dengan kemiringan mencapai 30% yang sangat panjang. Wajar saja jika rekan – rekan mulai mengeluarkan sumpah serapah dan mulai membandingkan dengan perjalanan di gunung – gunung Jawa Tengah. Dengan tanjakan yang maknyus, emosi kembali diuji ketika kabut mulai menyerang disertai gelegar geledak yang bersahut sahutan. Rintik rintik air hujan mulai turun. Di sini rombangan mulai sedikit panik, karena khawatir terjadi badai. Dengan menggunakan jas hujan, perjalanan mulai dipercepat, walau fisik sudah mulai sangat menurun. Dari sini rombongan kami berbaris bersama rombongan poltek ITS hingga pondokan.

bersama rintik hujan menembus hutan

Sebenarnya, suasana jalur pendakian selepas kopkopan, terutama ketika memasuki hutan pinus memikat dan indah. Kabut tipis yang menyelimuti jalur pendakian membuat suasana menjadi mistis. Untung saja, kekhawatiran akan badai tidak terwujud. Hanya hujan gerimis yang menyertai perjalanan kami. Dan sejujurnya, saya lebih menyukai cuaca seperti ini dibandingkan dengan cuaca terik. Tentu dengan catatan ini tidak terjadi saat summit attack. Bagiku hujan membawa kita lebih dekat dengan alam, selalu ada romantisme dalam tiap tetesnya.

Pukul 5 sore, tiba di pondokan tempat menginapnya para penambang. Namun, kali ini tidak aktivitas penambangan karena sedang libur. Hari yang mulai gelap, ditambah dengan fisik rekan rekan yang sudah terkuras, aku mulai mencari tempat untuk mendirikan tenda bersama fajrin. Sepertinya kondisi badan ini sudah malas untuk berkerja sehingga memutuskan untuk mendirikan tenda di antara gubuk milik penambang. Sebenarnya hal ini tidak dianjurkan bila ada para penambang, karena sering menimbulkan gesekan terkait kecemburuan dll, namun berhubung penambang sedang libur, tak apalah. Seharusnya selalu luangkan waktu mencari tempat berkemah yang baik dalam radius waktu 10 menit, karena biasanya ada tempat berkemah yang baik di sekitar pos. Pondokan sebagai tempat hunian sementara penambang ini juga dilengkapi dengansumber air yang berupa bak penampung air dari aliran anak sungai. Di sini biasanya para pendaki mengisi kembali persediaan air sebelum melakukan summit attack. Di sini pula menjadi jalur percabangan, dimana bila mengambil jalur kiri menuju Puncak Arjuno dengan waktu tempuh sekitar 6 jam dan jalur kanan menuju Puncak Welirang dengan waktu tempuh 3 jam.

Sebenarnya, rencana awal kami akan mengambil jalur kanan kemudian dari puncak welirang menuju puncak arjuno melalui gunung kembar I dan Kembar II. Namun rencana harus disusun ulang, dimana target berubah menjadi puncak welirang saja, kondisi fisik Ari tidak memungkinkan, karena malam itu terserang masup angin. Kedua rekan yang lain juga terlihat kelelahan, pertimbangan lainnya adalah cuaca, karena khawatir terjadi badai. Aku menyepakati saja, walau sedikit kecewa. Untuk masalah badai saya kira saya cukup percaya dengan peralatan yang dibawa untuk mengantisipasi badai, sedangkan untuk masalah fisik, seharusnya ini bisa diatasi dengan persiapan yang memadai mengingat ide pendakian sudah muncul sejak lama. Perjalanan kali ini merupakan ekspedisi dan sangat disayangkan jika harus melenceng dari dari yang direncanakan. Summit attack pun direncanakan pagi hari untuk memberi kesempatan istirahat lebih panjang.

Besoknya kami menuju puncak. Ternyata, ada sebagian rombongan Poltek ITS yang memutuskan untuk summit attack walau kemarin sempat memberitahu kamu untuk tidak ikut menggapai puncak. Agak menyesal mengetahui hal ini ketika sudah berjalan dengan ransel yang penuh beban. Jika dari awal sudah tahu ada sebagian yang muncak dan sebagian yang tetap di pondokan, kami tentu akan menitipkan sebagian dari barang kami. Perjalanan menuju puncak mencapai 3 jam. Jalur yang dilalui cukup jelas karena digunakan oleh para penambang. Mendekati puncak akan dijumpai persimpangan, dimana bila mengambil arah kanan akan menuju puncak welirang, sedangkan arah lurus menuju ke kawah tempat mengambil belerang. Sebelum menuju puncak, terdapat sebuah gua, yang konon digunakan sebagai tempat penangkaran menjangan oleh belanda (di mana masih terdapat tumpukan batu yang menyerupai pondasi/dinding).

Setelah menaiki tanjakan di dekat gua , nampak Puncak Welirang. Tak lama kemudian kami mencapai puncak 3156 mdpl. Sayang, cuaca saat itu berkabut sehingga tidak dapat melihat pemandangan yang lapang. Tak berlama lama kami segera turun karena khawatir akan hujan yang turun di perjalanan pulang nanti. Dari puncak kami singgah sebentar mengisi air kemudian melanjutkan perjalanan pulang.

ngeksis

foto bareng di puncak

Perjalanan pulang ini mengejar waktu karena takut jika kemalaman maka tidak ada angkutan umum yang beroperasi. Sebenarnya tak masalah karena pendakian ini direncanakan 3 hari 2 malam sehingga perbekalan masih mencukupi untuk bermalam kembali. Sayangnya Fajrin mengejar untuk pulang malam ini karena ada keperluan esok hari. Suasana yang terburu buru ini berimbas pada ketelitianku dalam kembali mengemas barang-barang ketika hendak pulang. Trekking pole ternyata belum dikaitkan di ransel sehingga tertinggal di depan pos perijinan, dan baru tersadar ketika sudah di dalam Bus Yogyakarta. Sedihnya..

Pendakian kali ini penuh nostalgia, karena pada jalur tretes ini, 5 tahun lalu aku mendaki puncak 3000 pertamaku. Tentu banyak perubahan yang terjadi, baik dari alam, fisik , maupun manajemen perjalanan pribadi. Masih terbesit keinginan untuk menuntaskan pendakian sadel di sini. Semoga masih ada kesempatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 7, 2012 by in Arjuno Welirang, Catatan Perjalanan, Gunung and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: