akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Gagal


gagal

Gagal..sebagian menganggap sebagai aib. Bagi penganut “tujuan mendaki adalah puncak” tentu kegagalan mencapai puncak akan selalu disesali. Lain lagi dengan kelompok ekspedisi yang gagal mencapai puncak, penyesalan yang timbul lebih banyak karena beban moral terhadap organisasi dan pemberi dana. Bagi pemburu foto profil tentu karena tidak mendapat foto fenomenal nan rupawan yang dapat memberikan kepuasan dari jumlah jempol yang muncul.

Akhir tahun dan awal tahun  seringkali menjadi pendakian sibuk para relawan dan SAR. Mengapa? Karena pada saat itulah cuaca di gunung sedang buruk buruknya dan banyak pendaki yang tersesat, sakit, hipotermia, hilang sehingga perlu dievakuasi. Belum lagi liburan kuliah atau sekolah yang berlangsung di akhir tahun dan awal tahun yang membuat banyak pendaki tetep melakukan pendakian meski hujan. Ketika membuat tulisan ini, baru saja selesai berlangsung operasi SAR terhadap dua pendaki yang hilang di Welirang. Sayangnya, kedua pendaki tersebut gagal menjadi penyintas (survivor). Musim hujan seringkali menjadi musim gagalnya pendaki mencapai puncak. Terhalang badai, kondisi badan yang lelah, perencanaan yang salah dan kemampuan yang kurang adalah faktor-faktor yang sering menjadi penyebab kegagalan tersebut.

Lalu ada apa dengan gagal? Ada salah satu artikel yang termuat dalam majalah National Geographic edisi Februari 2014 yang cukup menarik terkait kegagalan. “Gagal, kenapa tidak?” itulah salah judul artikelnya. Artikel yang mengulas kegagalan para penjelajah yang menjadi titik balik penjelajahan lainnya. Kegagalan akan memberikan pengetahuan dan pelajaran bagaimana berbuat yang benar. Contoh yang paling sering digunakan tentu Thomas Alfa Edison.Seorang pendaki everst pernah berujar “Saya mempelajari cara mendaki yang salah dalam empat kali percobaan mencapai puncak Everest………….Kegagalan memberi anda kesempatan untuk memoles pendekatan anda. Cara anda menghadapi resiko akan semakin pintar”.

Lalu bagaimana dengan kegagalan yang menyebabkan hilangnya nyawa, atau biasa dikenal dengan istilah tragedi? Ya sekali lagi, kegagalan, apapun itu sebenarnya adalah penting. Tanpa kegagalan, kemajuan tidak akan didapat. Berbagai tragedi pendakian menjadi diskursus untuk meraih cara yang aman di kemudian hari. Catatan pendakian sang korban (yang saat ini sudah sangat jarang dilakukan oleh pendaki era digital), catatan/laporan kegiatan Tim SAR ketika mengevakuasi juga menjadi sumber penting dalam memoles pendekatan dalam pendakian yang akan dilakukan.

Catatan dan analisis operasi SAR yang terdokumentasi menjadi referensi yang menarik.  Artikel – artikel Norman Edwin yang merangkum kegiatan operasi SAR (terangkum dalam buku Norman Edwin, catatan sahabat sang petualang) menjadi sumber referensi yang baik untuk para pendaki. Kisah tragedi desember 1969 yang dirangkai berdasarkan penuturan saksi lapangan yang termuat dalam Gie sekali lagi juga menjadi satu kisah yang menarik sebagai referensi. Catatan terkait Kasus- kasus yang hangat seperti meninggalnya pendaki di TNGPP dan pendaki solo di gunung kendang juga berharga untuk disimak.

Aku sendiri juga pernah mengalami kegagalan, mungkin tepatnya kegagalan minor. Kehabisan air ketika perjalanan turun Gunung Arjuno via Lawang karena salah menemukenali pos pendakian, meminta-minta mie ke pendaki lain karena buruknya logistik, target ekpedisi AW yang berubah total karena kurangnya persiapan yang tak matang serta kedinginan di Lawu karena perlengkapan seadanya menjadi bahan untuk menyusun manajemen pendakian yang lebih baik. Walau terdengar klise, tapi pengalaman -baik pengalaman sendiri maupun orang lain- adalah pelajaran yang berharga.

Sebagai penutup, kembali mengutip dari National Geographic:

penjelajah cenderung memandang jauh ke depan, meyadari kemungkinan kegagalan maupun keberhasilan..jika anda menyingkirkan ketidakpastian, motivasi turut tersingkir…

One comment on “Gagal

  1. johanesjonaz
    January 30, 2014

    Mendaki gunung juga sebuah pelajaran… nice post!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 29, 2014 by in Catatan Pinggir, rupa rupa and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: