akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Langit Terbuka Luas, Mengapa Tidak Pikiran-Pikiranmu?


langit terbuka luas mengapa tidak pikiran pikiranmu?

langit terbuka luas mengapa tidak pikiran pikiranmu?

Kegiatan mendaki kini tak lagi menjadi sesuatu yang “ekslusif”, yang hanya bisa dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Ketika bersapa sua dengan pendaki di berbagai gunung, tak sedikit berjumpa dengan pendaki yang baru pertama kali melakukan pendakian, dengan berbagai ekspresi tentunya. Adanya semangat, sumringah, datar, lelah, dan menyesal. Meningkatnya minat orang, pemuda pada khususnya, sebenarnya cukup menarik dan bermanfaat.

Hanya saja kini, seiring ketenaran 5 cm, baik dari filmnya, isu pembuatan filmnya serta berbagai cacian makiannya, para pendaki yang baru lahir ini dicap sebagai pendaki amatir,abal-abal, dadakan, sinetron dan kawan kawannya.

Pendaki dadakan dan ikutan membuat aku kembali menapaki kilas balik ketertarikanku pada musik. Semenjak kecil, telinga sudah cukup akrab dengan berbagai macam aliran lagu. Kala menginjak  awal-awal SD, berbagai musik seperti Duran-Duran, Slow Rock, Michael Jackson, NKOTB akrab di telinga karena orang rumah punya kasetnya. SD pertengahan hingga akhir, tiba-tiba aku jadi slankers ikutan. Tentu saja ini juga karena pengaruh kakak yang rajin memutar kaset Slank. Hafal setiap lirik lagunya, sering berdendang dengan suara sumbang walau saat itu belum mengerti makna-makna di balik lagu Slank yang saat itu terkenal dengan pembangkangan dan isu-isu sosial.

Menginjak SMP, referensi musik mulai bertambah. Kehadiran stasiun MTV dan stasiun tv lain yang masih menampilkan acara musik yang memuat video klip membantu menambah wawasan musik. Beruntung saat itu belum ada acara musik pagi dengan guyonan garing nan kosong diiringi tarian tak jelas. Relasi teman mulai bertambah berbanding lurus dengan tempat minjem kaset kaset, mulai dari retro, punk, trash, glam rock, metal. Referensi semakin bertambah. Sempat mulai menasbihkan sebagai penggemar musik punk dan grunge, tentu terpengaruh oleh Green Day dan Nirvana. Saat itu bersama temanku yang begitu cinta dengan musik trash saling membanggakan aliran masing-masing tanpa saling menjatuhkan.

Memasuki masa kuliah, mulailah mendengarkan musik-musik beraneka ragam. Dari Radiohead sampai The Brandals, dari Tani Maju sampai Peterpan. Dunia musik indie yang terkesan “cool”, “berbeda” ,“aneh” memiliki magnet untuk menelisik lebih dalam. Dan terbaptislah aku sebagai penggemar musik indie, walau dalam taraf coba-coba. Celakanya aku yang masih dangkal pengetahuan tetnag musik mulai meninggikan musik indie dengan merendahkan musik arus utama, dan sialnya aku salah memilih band yang direndahkan, yaitu peterpan. Mengapa sial, karena ternyata musik peterpan dan sekarang menjadi noah ini memang menarik secara musikalitas maupun lirik. Ah..masa muda indie wanna be memang penuh dengan semangat menggebu.

Kini dengan lautan informasi yang dengan mudah kita jaring melalui teknologi informasi yang berkembang pesat, makin bertambah pengetahuan tentang musik. Wawasan semakin terbuka dan tidak menjadi katak dalam tempurung lagi. Aku mungkin semakin menggandrungi band-band indie, setia membeli cd aslinya, mengikuti beritanya, memabaca bukunya dan menonton giggs’nya. Namun tidak lagi fanatik buta dengan menjelekkan band lain dan juga para pengikutnya. Para penggemar band alay itu, sebut saja begitu, mungkin tidak tahu bahwa masih banyak grup oke punya dalam negeri karena sistem industri musik atau hiburan yang menjadikan mereka tak tersorot lampu ketenaran.

Kembali ke dunia pendaki karena blog ini tema pendaki. Fenomena pendaki abal-abal, pemula, 5cm, karbitan muncul tak ubahnya mengingatkanku ketika aku mulai memandang rendah band lain dengan penggemarnya yang kuanggap terlalu mainstream, hanya ikut-ikutan, trend semata. Walau sebenarnya, bukankah kita semua pernah menjadi pemula. Dan banyak juga para pendaki veteran yang dulu mungkin suka mendaki karena tidak sengaja, diajak oleh teman/saudara/senior.  Mungkin saja efek 5cm nanti akan memunculkan pendaki profesional atau pencinta lingkungan. Kenapa tidak? Pendaki yang mencibir pun kalau dilihat lebih jauh (melalui penelisikan profile, komen, dan postingan di media sosial) ternyata banyak juga sama saja, tidak seistimewa cibirannya. Bisa jadi, mereka terusik karena pendakian pada umumnya dan semeru pada khususnya tidak lagi menjadi tempat yang sakral, sebuah trophi yang harus digapai dengan susah payah, kerena nyatanya sekarang pendaki mall pun, sebutan mereka yang naik dengan stylish, bisa mencapai semeru. Atau mungkin tiap orang punya alasan lain. Namun dengan adanya 5 cm, semua pendaki yang ngaku-ngaku senior tertolong, tinggal tunjuk 5 cm sebagai biang keladi berbagai fenomena, mulai dari membanjirnya karbitan, membanjirnya sampah, melonjaknya biaya pendakian, ketatnya aturan pendakian dan semua fenomena aneh yang terjadi.

 

Ah sudahlah….  Mari mencoba mencari berbagai informasi, sebelum mengeluarkan cibiran yang merendahkan. Bukalah wawasan, berbagilah pengetahuan. Jangan langsung menuduh dan mencibir, karena kita tak selalu benar…karena langit terbuka luas, kenapa tidak dengan pikiran-pikiranmu???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 15, 2013 by in Catatan Pinggir and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: