akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Playlist #6


RE-ANAMNESIS  –   Melancholic Bitch

sepasang kekasih yang bercinta di luar angkasa

sepasang kekasih yang bercinta di luar angkasa

Re-anamnesis, sebuah album rilis ulang dari melancholic bitch (melbi), menjadi to pplaylist bulan ini. [Re]-Anamnesis yang artinya mengumpulkan ingatan masa lalu atau mengembalikan kenangan, diterjemahkan dengan lirik-lirik yang penuh kesedihan (copas dari soundcloud melbi).Meski rilis ulang dan semua lagu-lagu di dalamnya sudah sering melintas di playlistku, tetap saja rasa penasaran terhadap album baru ini tak serta merta lenyap. Beruntungnya lagi, sebelum berhasil memiliki album ini, aku berkesempatan menonton aksi panggung seniman kolektif yang jarang mentas ini, dua kali pula, dan bertambah kembali ketika datang ke penutupan FKY. Menyaksikan mereka secara langsung memberikan nuansa yang berbeda. Energi dan pesona yang dibawakan seakan berlipat ganda. Selain sang narator, Ugoran Prasad yang pawai membawa suasana, mataku tertuju pada Yennu, gitaris yang seakan mengingatkanku pada Johny Greenwood di atas panggung.

Kembali pada Re-anamnesis, dibuka dengan “Depertamen Deities and Other Verses“, sepertinya ingin mengungkapkan kegelapan album ini. Lagu ini sebenarnya merupakan musikalisi puisi  yang diambil dari sebuah puisi panjang Rudiyard Kipling dan bagian akhir ditambahakn lirik yang menurut pengakuan penulis lagu (atau admin formspring melbi) terinsipirasi dari sastra jawa kuno.

Disambung dengan sebuah lagu yang menurutku sangat spektakuler, “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”. Orang yang pertama mendengar judul ini mungkin akan tertawa. Namun, liriknya bagiku sebuah karya epik kisah cinta yang kelabu. Lagu ini pula yang memperkenalkanku pada Subagio Sastrowardayo yang puisinya mengilhami lagu ini. Ugoran pernah menyatakan sejak dibawakan ulang oleh Frau, yang menurut mereka jauh lebih bagus, Melbi jarang membawakannya lagi di atas panggung (dan beruntungnya diriku menyaksikan ugoran berduet dengan sarasvati membawakan lagu ini).

Keberhasilan frau membawakan lagu melbi dengan ciamik sepertinya membuat melbi mengajak berduet dalam lagu “Off Her Love Letter”. Liriknya sederhana, namun tidak membuat lagu ini murahan. Ketika kita terbawa oleh suara manis frau, di akhir lagu akan ada kejutan di akhir, suasana tenang serta merta menjadi chaos

On Genealogy Of Melancholia” menjadi salah satu track favorit. lagu yeng bercerita tentang sejarah kekerasan ini memiliki lirik yang kuat dibawakan kembali dengan lebih gahar pada intro membuat lagu ini menjadi sangat nendang dibanding versi awal. Bukan berarti versi anamnesis sebelumnya lebih jelek, karena versi lama juga apik namun dalam nuansa yang berbeda. Menyaksikan melbi membawakan lagu ini, mata tak lepas dari yennu, yang sekali lagi, membawa imajinasiku ke tanah inggris, menonton Greenwood beraksi.

Tenang Cinta” menyambung semangat yang diberikan on genealogy of melancholia. Nuansa pop terasa namun lirik cintanya tak harus mendayu ala melayu, karena cinta yang digambarkan mungkin terasa sadis. Simak saja baris “tentang cinta yang membuatku membunuhmu”, “tentang cinta yang setajam kebencianmu padaku”  atau “tentang cinta yang membusuk di lagu”. Namun, meski berat, bercerita tentang cinta sepertinya nikmat ketika dilakukan di tepi jendela dengan segelas soda. Sekilas lagu ini penuh repetasi namun nyatanya tidak. Sang vokalis acap kali menegaskan ini adalah lagu yang paling sulit dibawakan karena sering lupa lirik.

Debu Hologram”, sebuah filosofi modern yang kembali diwacanakan melbi. Nuansa eksperimen suara elektrik terasa dari intro dan bridge yang sekilas seperti suara mesin atau komputer jadul yang penuh repetisi. Pada akhirnya kita akan menyadari apa yang kita inginkan tak selalu kita dapatkan.

Requiem”, sebagaimana judulnya, lagu ini adalah lagu gelap. Menceritakan sebuah keputusasaan, dan kematian adalah sebuah jalan keluar yang menyenangkan. Seolah-olah malaikat kematian berbisik kepada kita, “bernapaslah denganku, kuberjanji kita tak kan terengah”.  Haha bernapas dalam kematian tentunya takkan lelah karena kita tidak bernapas (bingung kan). Ketika menyaksikan Melbi di FKY, lagu ini dipersembahkan untuk alm. Bobby Kebo, dan suasananya langsung terasa. Gelap..kelam.. tak ayal aku merinding ketika menyusun ulang tragedi tersebut diiringi lagu ini.

Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Fransisco” adalah sebuah musikalisasi puisi milik Sapardi Djoko Darmono. Sekali lagi, melbi membuatku tersadar masih banyak puisi SSD yang menarik dan apik selain koleksinya yang dibawakan oleh Reda dan Tatyana

Melbi kembali berfilosofi dan mengajak kita berpikir dalam “Kita adalah Batu”. Mungkin kita semua adalah malin kundang yang akan dikutuk jadi batu😀. merujuk pada formspirng lagi, ini juga setengahnya terinspirasi dari kaya Goenawan Muhamad dan setengahnya lagi dari sebuah project Teater Garasi. Raungan-raungan gitar serupa Radiohead memenuhi lagu ini. mari kita siapkan segelas rasa sakit dan kehilangan pada setiap awal musim yang akan kita lalui.

The Street” sedikit memberikan warna berbeda karena terasa nge-blues. Aku malah penasaraan dengan versi yang dibawakan kala acara Mitos Melankolia, sepertinya lebih segar dari versi album. “I will touch you now, I will hurts you again. I will be there to makes you feel so precious“…lirik yang pedih….

Selanjutnya kita akan dihadiahi tiga lagu re-mix. Dimulai dari Requiem Reprise dengan musik yang lebih sederhana, namun lebih gelap, kelam, dan mencekam…lalu dilanjut dengan The Street (WVLV) terdengar sangat industrial dan ditutup dengan Tentang Cinta oleh Bottlesmoker yang lebih ceria dengan suara anak-anak sebagai pembukanya.

Re-anamnesis menawarkan candu bagi pendengarnya, menarik di setiap lirik dan ruangnya, menawarkan diksi-diksi yang mengedukasi, dan memberi referensi yang bergizi. Dan kali ini tak perlu 10 single lain yang melengkapi playlist perjalanan seperti playlist-playlist sebelumnya, karena album hasil karya seniman kolektif asal yogya ini mampu membawaku ke tiap dimensi, dari jembatan golden gate, sebuah kafe dengan jendela dan segelas soda, luar angkasa, bahkan dunia abadi kematian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 23, 2013 by in Playlist and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: