akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Mahameru, Sebuah Kisah Perjalanan (Bagian 4: Pulang)


Di Hari ke 4 pendakian suasana benar benar santai. Malam sebelumnya kami habiskan dengan mengobrol, mengenang summit attack yang rada kacau sambil mendengarkan alunan musik dari ipod. Pagi harinya kami bangun dan mulai menikmati suasana Ranu Kumbolo. Ternyata tadi malam ada pendaki yang baru tiba di Ranu Kumbolo. Akhirnya, kami bertemu kembali dengan pendaki lain.

Ranu Kumbolo di pagi hari adalah sebuah bonus istimewa dalam pendakian Semeru. Uap yang membentuk kabut tipis di atas air pada pagi hari menambah kesan mistis Ranu ini. Di Ranu Kumbolo terdapat menduduk yang memancing, bahkan ada yang sekeluarga + anjing kesayangan mereka. Kami pun bersosialisasi bersama penduduk sekitar. Terus terang, beruntung sekali bisa menikmati Ranu Kumbolo yang sepi setelah melihat pendakian semeru akhir-akhir ini yang begitu ramai dan penuh sesak di Ranu Kumbolo. Beberapa hari sebelumnya Ranu Kumbolo ramai oleh pendaki tujubelasan, tak pelak ranjau darat cukup banyak tersebar di berbagai pelosok semak dan rerimbunan. Aku tak dapat membayangkan kondisi pasca pendakian massal November 2012 kemarin, berapa banyak ranjau yang siap mengintai para pendaki. Pagi itu benar-benar santai dan digunakan sepuasnya untuk menikmati alam Ranu Kumbolo. Bahkan Eko pun sempat berendam di ranu kumbolo. Aku dan Igna hanya mencoba hingga sebatas lutut saja. Walau akhirnya setelah sekian lama kami baru menyadari bahwa tindakan itu sebenarnya tidak diperbolehkan😀.

Pukul 10.00 WIB, kami bersiap meninggalkan Ranu Kumbolo. Dua pendaki asal Malang yang baru datang tadi malam ternyata juga berniat sama. Mereka hanya ingin ke Ranu Kumbolo, tidak berniat ke puncak Mahameru. Pada awal keberangkatan kami berbarengan, namun di tengah-tengah rombongan mulai terpisah. Selama perjalanan sudah mulai terbayang pos Ranu Pane, mandi dengan sabun, memesang nasi rames, nasi goreng atau nasi nasi lainnya dan ditutup dengan minuman softdrink dingin. Perjalanan ke Basecamp RanuPane kira kira 3 jam, dimana kami tiba di sana Pukul 13.00 WIB. Waktu tempuh keberangkatan dan pulang ternyata tidak berbeda jauh. Mungkin karena energi sudah terkuras, dan tidak terlalu “ngoyo”, dan lebih menikmati pemandangan sekitar. Pada pendakian awal sepertinya kami banyak melewatkan detail jalur, mungkin karena hari keburu malam saat itu.

bersama penduduk lokal

bersama penduduk lokal

pagi di Ranu Kumbolo

pagi di Ranu Kumbolo

berpose di Ranukumbolo (jangan ditiru)

berpose di Ranukumbolo (jangan ditiru)

Jelang Basecamp, sepatuku mulai bermasalah, tepatnya di ladang penduduk sol sepatu mulai lepas. Untung saja ini terjadi ketika sudah mau pulang. Kejutan lainnya adalah tutupnya warung nasi di sekitar Basecamp. Mengetahui hal itu, maka pupuslah harapan kami untuk menikmati sajian nasi komplit + softdrink dingin. Tidak hanya itu, Pos Pendakian TNBTS pun tutup. Tak ada satu pun petugas walau hari itu adalah hari senin. Sepertinya memang tak perlu melapor ulang nih, atau jangan-jangan petugas lupa kalo masi ada pendaki yang naik. Kami pun mulai bersih-besih dan mandi.

Selepas mandi, aku meminjam motor pendaki asal malang yang turun bersama kami untuk mencari makan. Cukup susah mencari warung nasi di Ranupane dan akhirnya aku menemukan pedagang bakso yang menggunakan motor. Langsung saja aku minta penjualnya untuk pergi ke Ranupane sambil berpesan kalau ada empat pendaki kelaparan yang menanti. Akhirnya urusan perut terselesaikan dengan Bakso Malang sebagai makanan penutup kami di TNBTS.

makanan penutup di TNBTS, Bakso Supeerrr!!

makanan penutup di TNBTS, Bakso Supeerrr!!

numpang nampang setelah pendakian

numpang nampang setelah pendakian

Urusan perut sudah selesai, saatnya mencari kendaaran untuk kembali ke Tumpang. Ada Jeep, namun terlalu mahal jika disewa hanya untuk empat orang saja. Alternatifnya adalah mencari truk sayur. Namun tak banyak terlihat truk di sekitar Basecamp. Walau akhirnya ada truk yang akan turun tapi masih cukup lama, kata supirnya, karena akan menaikkan sayur. Kami cukup was-was, takutnya sampai Tumpang kemalaman dan ketinggalan bus ke Malang. Namun akhirnya truk akan segera turun, karena tidak jadi menaikkan sayur. Namun hal itu berimbas pada naiknya harga tumpangan, @Rp.30.000,-. Ya wajar saja, karena sang empunya truk tidak mau rugi karena sudah jauh-jauh naik ke Ranupane tidak tidak menghasilkan apa-apa. Mengendarai Truk tanpa muatan ternyata menjadi keasikan tersendiri. Pengemudi cukup kencang mebawa truk ini dan lutut kami harus kembali bekerja ekstra keras untuk menjaga keseimbangan tubuh. Dari titik ini aku yakin semua kan berjalan lancar karena kami akan memasuki perkotaan dan banyak alternatif kendaraan yang tersedia.

pemandangan dari atas truk

Menikmati pemandangan dari atas truk

Sampai di tumpang lanjut ke Terminal Arjosari. Kami tiba saat maghrib, dan segera mencari makan lalu duduk santai menunggu keberangkatan bus sekitar pukul 20.00 WIB. Kali ini bus yang kami tumpangi menyediakan menu nasi padang untuk makan malam, jauh lebih baik dari soto kobokan yang disediakan oleh bus jogja-malang sebelumnya. Esok hari tiba di Jogja pukul 05.00 WIB. Rasanya senang sekali kembali ke Yogyakarta dengan selama serta berhasil telah mencapai Puncak Semeru. Namun euforia tak harus berlama-lama karena pagi itu juga harus kembali beraktivitas, segera menghadap dosen pembimbing, karena Beliau sudah mengirimkan sms menanyakan kabar Tesisku, ketika aku sedang asik-asiknya menikmati Semeru.

6 comments on “Mahameru, Sebuah Kisah Perjalanan (Bagian 4: Pulang)

  1. johanesjonaz
    March 13, 2013

    Selamat!!

  2. Pingback: Mahameru, Sebuah Kisah Perjalanan (Bagian 3: Puncak!!!) | akunto[MO]untain

  3. bucheabud
    June 13, 2013

    Semoga tdk terjadi lagi pendakian massal……Saya terakhir thn1991 ke Pucak Mahameru

  4. azzuralhi
    March 1, 2014

    Om ranjau itu maksudnya apa..?
    Hehe
    Btw selamat, sudah menginjakkan kaki di ranukumbolooooo….. #gigitjari..

    • akuntomo
      March 2, 2014

      ranjau itu sejenis pupuk kandang yang dihasilkan oleh para pendaki tapi tidak dikubur, dan berpotensi terinjak oleh pendaki lain😀.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 12, 2013 by in Catatan Perjalanan, Gunung, Semeru and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: