akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Mahameru, Sebuah Kisah Perjalanan (Bagian 2: “..sendiri..”)


Hari ke 2 : Sendiri……….

Ranu Kumbolo kala pagi dingin luar biasa…. Tenda tertutupi bunga es dan rumput rumput terlihat putih tertutup bunga es. Setelah keluar dari tenda, baru kusadari ternyata tenda terlalu dekat dengan air ranu. Pantas semalam dinginnya menusuk tulang. Keluar tenda, aktivitas pagi pun berjalan, mulai dari  memasak, menghangatkan badan dan “membersihkan” isi perut. Dan untuk ritual satu ini aku jalan-jalan sampai Pangonan Cilik di sisi barat. Padang rumput yang luas dan merupakan jalur alternatif (jalur ayeg-ayeg). Di seberang selatan Ranu Kumbolo, tak tampak tenda pendaki. Sepertinya para pendaki sudah turun semua. Di dekat kami ternyata ada pendaki lain yang berkemah, yaitu pendaki asal Jombang. Kelompok  pendaki ini baru saja turun malam sebelumnya. Kami ngobrol-ngobrol sambil mencari informasi tentang kondisi puncak, ternyata mereka tidak jadi muncak, hanya sampai Arcopodo karena ada rekannya yang sakit. Dari keterangan mereka, kondisi puncak terdengar cukup seram, gempa tremor terasa di Arcopodo serta suara letusan yang cukup keras. Wah kabar ini menambah was-was saja.

Tenda tanpa Flysheet yang setia menemani kami 3 malam

Tenda tanpa Flysheet yang setia menemani kami 3 malam

pangonan cilik

pangonan cilik

foto bareng pendaki Jombang

foto bareng pendaki Jombang

Pukul 08.45 wib, segera kami berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Mulai dari sini kami tidak bertemu dengan pendaki lain hingga kembali lagi Ranu Kumbolo. Berjalan sebentar menuju sisi selatan Rakum diiringi gerutu Okky yang kesal karena kemarin tidak melanjutkan perjalanan untuk berkemah di sisi selatan, yang jaraknya tidak jauh. Tiba di sisi selatan, kami hanya melihat lihat sekeliling sebentar, lalu mendang tanjakan cinta yang siap dilewati. Tanjakan cinta adalah sebuah bukit, atau tepatnya celah diantara dua bukit, sehingga kurva yang terbentuk mirip hati. “Oh, ini dia tanjakan yang tersohor itu”, batinku. Tanjakan dengan sudut kemiringan yang taam ini memang menguras tenaga, apalagi ini awal perjalanan, otot otot masih baru mau mulai bekerja, sudah harus bekerja keras. Aku jadi ekor rombongan, dan tentu saja godaan untuk menoleh ke belakang tak bisa ditolak. Hm…aku rasa mitos tentang tak boleh menoleh ke belakang selama menanjak di tanjakan cinta ada benarnya. Bukan tentang jodoh tentunya. Kalau dipikir,  jika pendaki menoleh ke belakang, bentangalam yang tersaji begitu menggoda untuk dinikmati berlama-lama, dan tentunya akan membuat kemacetan di jalur pendakian.

Sisi selatan Ranu Kumbolo yang sepi, hanya kami pendaki yang akan naik

Sisi selatan Ranu Kumbolo yang sepi, hanya kami pendaki yang akan naik

bersiap menapaki tanjakan cinta

bersiap menapaki tanjakan cinta

pemandangan Rakum Dari Tanjakan Cinta

pemandangan Rakum Dari Tanjakan Cinta

Tiba di ujung tanjakan cinta, bentangalam yang tersaji segera berubah. Hamparan padang sabana luas yang bernama Oro-Oro Ombo menanti. Perpaduan antara warna hijau, kuning, coklat, dan…..hitam. Ya, sebulan sebelumnya, Oro-Oro Ombo mengalami kebakaran sehingga warna hitam bekas terbakar masih nampak jelas. Sayang juga karena kalau waktunya pas, ada padang lavender yang membuat nuansa Oro-Oro Ombo makin kaya warna. Dari atas terlihat ada dua jalur, pertama jalur memutar dengan meniti punggungan dan jalur cepat, memotong langsung ke bawah, dan tentu sangat curam. Kami memilih jalur memutar saja, menikmati berjalanan yang ada. Berada di antara alang-alang setinggi manusia adalah sesuatu yang menarik di Oro-Oro Ombo.  Membayangkan diri tertinggal rombongan  dan tersesat di tengah alang-alang cukup membuat aku untuk semangat melangkah kembali.

Oro-Oro Ombo, dengan sisa sisa kebakaran lalu

Oro-Oro Ombo, dengan sisa sisa kebakaran lalu

di antara alang-alang

di antara alang-alang

Tiba di Cemoro Kandang, kami terus tancap gas. Kami bertemu dengan pendaki solo yang berasal dari Austria. Sekedar say hello lalu kembali melanjutkan perjalanan. Dan dari sini hingga kembali ke Ranu Kombolo esok hari kami tidak akan bertemu dengan pendaki lain, atau dengan kata lain, pendakian ini menjadi pendakian esklusif, rasanya sampai besok keindahan Semeru hanya untuk kami. Semangat yang membara hanya muncul pada awal perjalanan,  tapi di tengah-tengah yang menjadi ngesoters adalah para cowok, sedangkan Okky ngacir ke depan meninggalkan kami bertiga…wah. Medan pada Cemoro Kandang ini tak terlalu sulit, hanya saja terik matahari cukup menguras tenaga dan jalur cukup berdebu. Sampai di jalur air, ada sebuah tanah lapang yang lumayan luas untuk istirahat. Waktu masih menunjukkan pukul 11.30 Wib, hm..masih banyak waktu karena menurut Peta RBI yang aku bawa, Kalimati sudah tidak jauh dari tempat kami istrirahat. Perjalanan segera dilanjutkan, karena targetnya adalah Arcopodo. Setengah jam berjalan dari tempat istirahat, Sosok Semeru terlihat sangat jelas. Ya, kami sudah mencapai Jambangan. Semangat langsung meninggi. Jambangan merupakan tempat datar yang ditumbuhi oleh tanaman edelweiss.  Setengah jam berjalan kami sudah tiba di kalimati. Wah..lebih cepat dari yang diperkirakan. Jam masih menunjukkan pukul 12.30 WIB. Kami sepakat untuk istirahat dahulu di Kalimati dengan durasi yang cukup lama. Kalau tidak salah, kesepakatannya jam 14.00 atau jam 15.00 kembali melanjutkan perjalanan.

rehat di tengah tengah Cemoro Kandang

rehat di tengah tengah Cemoro Kandang

Puncak Semeru terlihat dari Jambangan

Puncak Semeru terlihat dari Jambangan

Kalimati tiga hari sebelumnya menjadi tempat perayaan hari kemerdekaan. Sisa-sisa kegiatan masih terlihat jelas, sampah menumpuk. Sayang sekali keindahan Kalimati harus dinodai dengan sampah yang berserakan..dan tentu saja, ranjau darat siap mengintai di setiap sudut semak yang ada. Cukup kenali tisu yang berserakan di semak, maka segera jauhi tempat itu. Di Kalimati ini istirahatnya super panjang. Eko menyempatkan diri menulis enah puisi atau catatan perjalanan sambil tidur tiduran, okky tidur beneran , igna tidur tiduran sambil ngemil, dan aku tidur tiduran sambil jepret sana sini Di Kalimati banyak ada anis gunung, sepertinya anis sangat senang mencari makanan sisa yang ditinggalkan oleh pendaki. Kalimati jadi tempat untuk mengisi ulang air karena ada sumbermani, mata iar yang tak jauh letaknya dari Kalimati. Namun , kali ini kami tak perlu ke sumbermani, karena ada 5 botol air yang ditinggalkan oleh pendaki dari jombang. Wah..terimakasih sekali, karena repot repot mencari air segala. Suasana Kalimati benar benar menyenangkan…sepi…pandangan luas..dan kami pun melakukan sesi foto foto dengan berbagai gaya. Puas istirahat dan foto-foto, perjalanan siap dilanjutkan. Dan…permasalahan pun muncul………..

berbagai gaya istirahat di Kalimati

berbagai gaya istirahat di Kalimati

anis gunung yang sibulk mencari makan

anis gunung yang sibulk mencari makan

sesi foto #1

sesi foto #1

sesi foto #2: Merdeka!!!

sesi foto #2: Merdeka!!!

Di kalimati saat itu tak ada penunjuk jalan menuju Arcopodo. Kami mencari jalur tapi tak ketemu. Menunggu pendaki lain jelas tak mungkin karena memang tak ada pendaki lain yang akan naik ataupun turun dari puncak. Mencoba menapaki berbagai jalur di selatan pondokan tetap saja nihil. Pencarian ini menghabiskan waktu lebih dari 2 jam. Segala jalur di sekitar pondok yang terlihat menuju ke atas segera ditapaki. Mulai jalur lahar yang tepat berada di selatan pos, maupun jalur kecil kecil yang tersebar. Pencarian ini benar benar bikin frustasi dan putus asa. Sudah terbayang jika akhirnya tidak menemukan jalur dan akhirnya balik tanpa harus muncak…

Untung saja, semangat yang tak pernah padam (halah) akhirnya menghasilkan. Eko dan Igna menemukan jalur menuju Arcopodo. Jalurnya berada di arah timur pondokan. Dan belakangan kami baru tahu jalur lahan dan kawan-kawannya di selatan pondokan merupakan jalur menanam ranjau darat para pendaki. Segera kami bergegas mengambil ransel dan melanjutkan perjalanan, kala itu Pukul 16.50 WIB. Perjalanan dilakukan dengan langkah yang cepat, karena ingin segera sampai di arcopodo, ditambah hari sudah mulai gelap. Jalur menuju Arcopodo bisa dibilang awal pendakian yang sebenarnya, karena nanjaknya mantap.

akhirnya...jalurnya ketemu

akhirnya…jalurnya ketemu

awal pendakian menuju arcopodo

awal pendakian menuju arcopodo

Di Arcopodo, kami menemukan tempat membuka lapak yang representatif, plus bonus berupa kayu bakar. Ya, waktu di Ranu Pane, pendaki dari bandung menitip pesan supaya menggunakan kayu bakar yang sudah mereka kumpulkan, dan ternyata kayu bakar tersebut masih sisa. Wah bonus yang menyenangkan… Tenda segera didirikan, mulai memasak sambil mempersiapkan alat-alat yang dibawa untuk summit attack besok. Diskusi panjang terjadi ketika hendak menentukan jam berapa berangkat muncak. Igna dan Eko ingin muncak jam 2 pagi, tapi aku ma okky maunya jam 4 pagi. Pertimbanganku waktu itu biar istirahat lebih panjang, dan tidak terlalu pagi nyampai di puncak. Pikirku, untuk ke puncak paling lama 3 jam, berarti sampai di puncak jam 5, ketika matahari belum terbit. Berada di puncak terlalu lama bukan ide yang bagus, karena awal bulan ada kejadian pendaki terkena lava pijar di puncak mahameru. Akhirnya diputuskan untuk summit attack jam 4 pagi. Segera kami tidur setelah melalui hari yang menguras pikiran dan fisik dan bangun esok hari untuk bersiap menghadapi kenyataan bahwa ternyata prediksiku salah……….

(bersambung)

5 comments on “Mahameru, Sebuah Kisah Perjalanan (Bagian 2: “..sendiri..”)

  1. johanesjonaz
    February 26, 2013

    kok bisa sepi gitu?

    • akuntomo
      February 26, 2013

      soalnya ini pas bulan puasa, dan naiknya pas tanggal 19 agustus, sehabis acara 17an, jadi pendakinya kebanyakan naik pas 17an..setelah itu sepi…….

      • johanesjonaz
        February 26, 2013

        weeh… termasuk nyalinya besar bro.. selamat!

      • akuntomo
        February 26, 2013

        haha tengkyu bro..rada rada was was juga sih..maklum satu rombongan belum pernah naik semeru semua.

  2. Pingback: Mahameru, sebuah kisah perjalanan (Bagian 1) | akunto[MO]untain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 25, 2013 by in Catatan Perjalanan, Gunung, Semeru and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: