akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Mahameru, sebuah kisah perjalanan (Bagian 1)


22. wall-e di 3676mdpl

Puncak Mahameru

Seperti layaknya pendaki lainnya, pendakian Semeru adalah pendakian yang selalu aku impikan. Ketika menginjakkan kaki di Malang tahun 2002, terbesit untuk segera menuju puncak Mahameru. Namun butuh sembilan tahun untuk mewujudkannya, tepatnya 21 Agustus 2011, 08.30 WIB . Seperti pendaki lainnya, pendakian pertama ke Puncak Mahameru selalu menjadi salah satu pendakian yang epik, sebuah epos perjalanan….dan catatan perjalanan kali ini terbagi menjadi beberapa seri, karena epos..biar seru dan panjang.

BAGIAN 1:

Pendakian ini bermula dari ajakan Ignasius untuk ikut dalam pendakian massal komunitas OANC kaskus dalam rangka 17 agustus. Terus terang aku tidak tertarik untuk ikut pendakian massal. Aku masih berpikiran kalau pendakian massal kurang menyenangkan, terlalu ramai, dan perhatian lebih terpusat pada kegiatan bukan alam sekitar. Igna pantang menyerah untuk mengajakku, dan akhirnya aku iyakan. Pikirku, tak apalah ikut pendakian massal massal, anggap aja survei jalur.

Pertemuan pertama tim OANC kaskus regional jogja dihadiri enam orang. Cukup istimewa karena terdiri dari enam orang dengan latar yang berbeda-beda. Bahasan pertama kala itu kalau tidak salah mengenai persiapan transportasi, peralatan, dan biaya. Kemudian disepakati untuk membahas hasil survei dan persiapan lainnya pada pertemuan berikutnya. Jelang pertemuan selanjutnya, tiba tiba saja terdengar kabar yang cukup membuat gundah gulana. Aktivitas Semeru meningkat sehingga dinyatakan tertutup untuk pendakian, termasuk pendakian 17 Agustus. Pendakian semeru tanpa puncak? Hm..bukan sesuatu yang kudambakan sepertinya.

Pertemuan kedua membahas masalah adanya larangan pendakian ke puncak semeru. Dua orang akhirnya mundur karena tidak mendapat ijin keluarga, mengingat berita semeru sudah muncul pada media nasional. Singkat kata peserta menjadi empat orang, Aku, Igna, Eko dan Okky. Pendakian 17 agustus Kaskus tetap dilakukan namun hanya sampai Kalimati. Hm..ternyata kami semua berhasrat mencapai Puncak Mahameru sehingga memutuskan untuk tidak ikut pada rombongan kaskus. Guna mengantisipasi adanya ranger taman nasional yang berjaga di sepanjang jalur kalimati arcopodo, kami mengundurkan jadwal. Pendakian dimulai tanggal 18 Agustus dengan asumsi para ranger sudah turun. Pokoknya, tujuan utama adalah puncak semeru. Pembagian tugas sudah dilakukan, namun ada yang agak mengganjal. Tidak ada pembahasan mengenai logistik makanan, dengan kata lain masalah makanan diserahkan ke masing masing individu. Sepertinya bukan ide yang bagus, dalam benakku. Persiapan pendakian ini kulakukan bersama dengan Igna, seperti  pemilihan makanan, peralatan yang kira-kira perlu dibawa.

Hari keberangkatan, kami berkumpul di Terminal Giwangan. Perjalanan menuju Malang kami lakukan dengan menggunakan Bus dengan keberangkatan jam 20.00 WIB. Bus kelas eksekutif dengan suguhan makan malam soto kobokan, kata Eko. Haha… benar-benar soto yang tidak menarik sama sekali. Pagi hari keesokannya, bus tiba di terminal Arjosari, kalau tidak salah 04.30 WIB. Tak perlu menunggu lama, angkutan menuju Tumpang pung sudah datang. Ah..sepertinya semua berjalan lancar..kataku dalam hati. Tiba di Tumpang jelang pukul 06.00, aktivitas di sana sudah cukup ramai. Maklum, tempat transit pendaki berada dekat Pasar Tumpang. Sembari berharap bertemu pendaki lain, kami bergerilya ke pasar mencari apa yang bisa dibeli untuk nambah perlengkapan. Jam 08.00, segera kami bergegas ke puskemas. Surat kesehatan Eko dan Okky tertinggal di Yogya sehingga harus membuat lagi di sini. Segala persiapan beres, mulai dari makanan, perlengkapan pendakian, surat kesehatan..kini saatnya menanti pendaki lain buat patungan jeep. 30 menit berlalu…masih sepi..hm..tenang, bentar lagi juga ada masih pagi….satu jam berlalu…mulai cemas. Akhirnya kami segera mencari alternatif lain karena tak ada satu pun pendaki lain yang muncul. Rencana naik truk sayur kandas karena truk sudah berangkat naik. Setelah sana-sini bertanya akhirnya kami naik angkutan desa menuju Gubug klakah kemudian dari sana naik truk sayur yang lewat. Ok, semua terlihat sempurna. Naik angdes, turun di Kantor TNBTS Tumpang. Sampai kantor TNBTS kami bengong karena ternyata di pos ini juga minta fotokopi surat kesehatan dan KTP sedangkan kami tidak mempersiapkan kopiannya. Mungkin karena kasian melihat kepanikan kami, bapak pegawai kantor TNBTS meminjamkan motor untuk mencari tempat fotokopi, yang ternyata berada di sekitar pasar Tumpang. Kembali ke titik awal pemberangkatan…benar-benar buang waktu. Beres perijinan, kembali naik angkutan desa menuju di Gubug Klakah.

berburu barang di Pasar Tumpang

berburu barang di Pasar Tumpang

motor penyelamat

motor penyelamat

Tiba di gubung klakah, suasana cukup sepi…menunggu truk lewat tak kunjung tiba. Beberapa warga menawarkan ojek untuk ke Ranu Pane, namun harganya lumayan juga, jadi kami tetap pada rencana menggunakan truk. Menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu, akhirnya kami menyerah. Tawaran seorang warga  untuk menggunan mobil pick-up’nya kami terima dengan sewa sekitar rp. 250.000. Tak ada jeep ,truk pun jadi, dan tak ada truk, mobil bak terbuka pun jadi.  Jelang pukul 13.00 kami segera meninggalkan Gubug Klakah. Berada di bak terbuka dengan jalan yang bak jalur roller coster namun berdebu ini ternyata nda kalah asik dengan menggunakan jeep (eeng…..entahlah, belum pernah naik jeep semeru soalnya). Bayangkan saja sedang menunggang kuda di pegunungan yang gersang..penuh guncangan dan berdebu.. Ah ternyata tak harus menggunakan kendaraan dengan sistem 4WD, mobil pick up pun sanggup bahkan dengan beringas (berdampak pada pantat kami yang pegal-pegal).

terdampar di gubug klakah

terdampar di gubug klakah

tak ada jeep, tak ada truk..pick-up pun jadi

tak ada jeep, tak ada truk..pick-up pun jadi

Sampai di Ranupane, kami melihat ada rombongan pendaki. Ternyata mereka baru saja turun, setelah mengikuti acara 17 Agustus. Bertanya sana sini, katanya sih ada beberapa rombongan pendaki yang naik. Setelah istirahat, mengurus perijinan serta mengisi perut, pukul 15.15  kami segera berangkat. “Semeru, aku datang!!!”,kataku dalam hati.

foto bareng pendaki bandung yang abis ikut upacara 17an

foto bareng pendaki bandung yang abis ikut upacara 17an

eko dan igna pose bersama pendaki cilik, arya

eko dan igna pose bersama pendaki cilik, arya

..dan perjalanan dimulai...

..dan perjalanan dimulai…

Kejutan berikutnya pun datang. Ritme jalan tim sangat konstan…dan cepat. Tim hanya berhenti berisitirahat pada titik titik pos pendakian, atau bisa dibilang, berjalan 45 menitan baru istirahat. Wah, cukup kaget juga, karena tiga pendakian sebelumnya bisa dibilang ritme pendakian cukup santai, dengan tempat istirahat di mana mana. Aku mencoba mengikuti ritme yang ada, walau cukup membuat napas tersengal-sengal. Jelang Watu Rejeng, akhirnya mengeluarkan trekking pole. Matahari mulai menghilang, dan ternyata bukan aku aja yang kehabisan energi, tapi sepertinya semua anggota tim mengalami hal yang sama. Beruntung..sebelum gelap, samar-samar Ranu Kumbolo nampak di kejauhan. Semangat kembali muncul, segera melangkah dengan pikiran untuk mendirikan tenda secepat mungkin. Tiba di Rakum, sekitar 18.30, hanya sedikit cahaya lampu yang terlihat. Berarti tak banyak pendaki yang berkemah. Karena lelah, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sisi utara Rakum dan mulai memasak…kalau tak salah dengan menu mie, nugget, dan tempe.

pendakian tertib (dan ngos-ngosan) ..istirahat hanya pada pos pos yang ditentukan

pendakian tertib (dan ngos-ngosan) ..istirahat hanya pada pos pos yang ditentukan

penampakan mahameru yang menambah semangat pendakian

penampakan mahameru yang menambah semangat pendakian

masak memasak

masak memasak

Udara dingin yang mulai menusuk tulang membuat aku dan kawan kawan segera masuk tenda tanpa flysheet itu, tidur sambil menikmati kebekuan dan kesunyian ranu kumbolo.

Bersambung……….

6 comments on “Mahameru, sebuah kisah perjalanan (Bagian 1)

  1. johanesjonaz
    February 22, 2013

    refleksi 5Cm!

    • akuntomo
      February 22, 2013

      Maunya bikin yang 5km, om😀. Thanks udah mampir

  2. Rani Jutexz Adjah
    June 20, 2013

    ada lagi ga pendakian tuk agustus

    • akuntomo
      June 21, 2013

      setahuku tiap 17an ada pembatasan pendakian ke puncak. Nda tau kalau sekarang. Info jelasnya coba hubungi kantor TNBTS

  3. leniaini
    October 1, 2013

    lho, ada mas eko??

    • akuntomo
      October 1, 2013

      yoi, pendakian pertama ma mas eko tapi belum ada yang kedua😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 20, 2013 by in Catatan Perjalanan, Gunung, rupa rupa, Semeru and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: