akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Sepenggal Kisah Semeru Tahun 1830 -1930


Semeru sejak dahulu sudah menarik siapa saja yang melihatnya. Tulisan ini saya sadur dari Timeline twitter saudara Harley B. Sasta (@harleysastha) bulan november silam yang bercerita mengenai Semeru medio 1830 – 1930.

Semeru merupakan tiang langit tertinggi puncak tertinggi Pulau Jawa memiliki ketinggian 3676 mdpl. Angka 3676 didapat dari pengukuran tahun 1911. Semeru sejak dahulu sudah banyak menarik orang untuk menjelajahinya, tak terkecuali orang-orang Eropa. C.F. Clignett merupakan orang Eropa yang pertama kali menginjakkan kakinya di puncak Gunung Semeru tahun 1838 melalui sebelah barat daya lewat Widodaren. Franz Wilhem Junghuhn menjadi orang eropa kedua yang mendaki Gunung Semeru, Jawa Timur, melalui jalur Gunung Ayek-ayek, Gunung Inder-Inder dan Gunung Kepolo. Sebelumnya, Nes, residen Pasuruan kala itu, pernah mencoba mendaki Semeru tapi gagal. Glignett dan Junghuhn memiliki kontribusi yang besar terhadap tersebarnya informasi mengenai Semeru di Benua Eropa. Setelah membuat risalah – risalah mengenai pendakian, tahun 1840-an Gunung Semeru makin mendunia.

Orang Eropa lainnya yang pernah mencapai puncak Semeru di masa lalu adalah Dr. Wormster. Beliau yang kemudian mengeluarkan buku dgn tulisannya yg indah & diterbitkan di Belanda. Bergenweelde atau Kemewahan Gunung-Gunung, menjadi judul bulu karya Dr. Wormster yang mengupas keindahan gunung-gunung di Jawa. Dr. Wormser mendaki Gunung Semeru mulai dari Tosari Pasuruan, tahun 1920-an. Di Hotel Karia, Tosari, Dr. Wormser bertemu dengan Neuman, juara ski eropa, pelukis sekaligus pendaki gunung berkebangsaan Jerman. Dr. Wormser & Neuman berangkat dari Tosari menuju Desa Ranu Pani dengan waktu tempuh saat itu sekitar 6 jam menggunakan kuda. Dari Ranu Pani, rombongan Wormser berjalan menuju Ranu Kumbolo dgn membawa beberapa porter. Dari Gunung Ider (±2500 mdpl), kemudian rombongan Dr. Wormser melalui Gunung Ayeg-Ayeg (±2800 mdpl) sebelum akhirnya tiba di Ranu Kumbolo.

Melalui belakang peternakan di Desa Ranu Pani rombongan Dr. Wormser langsung menanjak terjal melewati Ayeg-Ayeg. Cerita Dr. Wormser, rombongannya mendaki 1,5 jam dengan jarak 700 m dari Ranu Pani menuju Ayeg-Ayeg sebelum turun 500 m menuju Ranu Kumbolo. Saat melalui lembah tinggi sempit yang dipenuhi Edelweis di G Semeru, rombongan sempat melihat kawanan kijang dikejar anjing liar. Selain itu , lembah tersebut digambarkan tempatnya macam berburu celeng liar di Gunung Semeru. Di sana banyak sekali ditemukan kerangka-kerangka celeng & satwa lain.

Tiba di Ranu Kumbulo, rombongan Dr. Wormser mendirikan camp untuk bermalam sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak Semeru. Digambarkan malam itu, udara sangat dingin, rombongan Dr. Wormser mengenakan jaket, sweater & rompi rajut untuk melawan dingin, kain kanvas & selimut sabagai alas tidur & dua selimut tambahan pelindung tubuh . Rombongan Dr. Wormser tidur di dalam bivak di sisi Ranu Kumbolo. Hal yang menarik, sampai jauh malam Dr. Wormser bisa melihat belibis bermain-main di air Ranu Kumbulo. Saat itu pendakian dilakuan ketika purnama dimana sinarnya memantul di atas Ranu Kumbolo. Hal ini membuat Dr. Wormser benar-benar berada di antara kemewahan gunung-gunung. Dr. Wormser merasakan bagaimana bukit hutan yang hitam seperti menyimpan rahasia alam Semeru yg luar biasa. Di atas tanah rerumputan di Ranu Kumbolo, cahaya bulan melukiskan bentuk pohon, daun & cabang di tepian ketenangan air danau.

Courtesy of Tropen Museum, Amsterdam-NL

Ranu Kumbolo Masa lalu
Courtesy of Tropen Museum, Amsterdam-NL

Berikut keindahan Ranu Kumbolo yang digambarkan Dr. Wormser melalui tulisannya:

“Telaga birunya terbentang tanpa gerakan. Sekali-sekali seekor itik liar mengusik permukaan airnya yang licin, kalau dia menyelam dalam-dalam dan menghilang. Sampai jauh malam saya melihatnya berenang berkeliaran di telaga, dan sekali-sekali mendengar suaranya mengalun diatas air. Di seberang sana, batang-batang kayu besar telah roboh dan terendam didalam air. Berapa tahun sudah batang-batang ini membusuk di dalam air? Diantara dedaunan hijau yang lebat dari pepohonan yang tumbuh tinggi, yang menutupi lereng-lereng gunung di sekitar sini, angin malam berdesis. Sang Rembulan muncul. Setelah sinar matahari, yang dengan tajam menampakkan bentuk-bentuk dari hutan dan telaganya, sinar rembulan mengaburkan semua keadaan.Sekarang puncak-puncak pepohonan tidak bergerak dan nampak samar-samar dilangit yang cerah. Di atas punggung-punggung gunung kelap-kelip bintang bergelantungan. Di muka air telaga Sang Rembulan mulai memainkan sinar peraknya, menerangi bivak kami. Suatu malam tropik yang tenang mengendap diatas telaga gunung, yang sudah berabad-abad terlindung oleh dinding-dinding gunung, dan jarang sekali terganggu ketenangan tidurnya oleh kegaduhan manusia.” 

Berikut rangkaian kata puitis lainnya Dr. Wormser saat berkemah di Ranu Kumbolo tahun 1920-an.

Datang & pergilah pikiran-pikiran, yang hanya berani kita sampaikan kepada satu orang sesama manusia saja, lalu tibalah ketenangan yang menakutkan, keinginan kerinduan yang seperti menyusup masuk,  akan tiba; yang baik maupun yang buruk, seperti yang tersirat di dalam kitab-kitab abadi”.

Tiba tengah malam, rombongan Dr. Wormser berangkat melalui tanjakan yang kini dikenal tanjakan cinta. Sesekali terdengar lengkingan burung hantu, menambah cekamnya kesunyian hutan rimba. Kemudian melalui Oro-oro Ombo rombongan sesekali istirahat melepas lelah, lalu melanjutkan perjalanan melalui Kalimati, menanjak menuju hutan Raja Pada (sekarang dikenal Arca Pada) dimana terdapat 2 arca Hindu kembar. Arca kembar di hutan Raja Pada (Arcapada) dipercaya masyarakat Hindu Tengger telah menjaga kerucut abu Gunung Semeru sejak berabad lalu. Arca kembar di hutan Raja Pasir menuju puncak Semeru. Pasir di puncak Semeru menjadi tantangan berat para pendakinya sejak masa lampau hingga kini. satu langkah naik, setengah langkah mundur atau dua langkah turun. Itulah yang dirasakan rombongan Dr.Wormser saat ke puncak Semeru. Setelah beberapa jam berjuang mendaki melalui pasirnya, akhirnya rombongan Dr.Wormser tiba di titik tertinggi P. Jawa, 3676 meter.

“Di belakang tepi awan muncul sebuah sungai putih, yang menghilang lagi didalam kabut yang semakin padat. Juga kawah yang dalam, tempat jantungnya G. Smeru berdenyut, mulai diliputi awan. Warna kuning cerah belirang warna kelabu tua dari batu karangnya, diganti warna kelabu merata. Lembahnya senyap, bukit-bukit tertutup gunung-gunung menghilang, kawahnya larut di dalam asap, dan kami berdiri di dalam kabut padat, tanpa sesuatu diatas kami kecuali awan-awan yang berkejaran. Dan lagi datang rasa nikmat dari suatu kemenangan. Kenikmatan Alpen. Lepas dari dunia…” -Dr. Wormser-

Itulah sekilas cerita tentang Semeru di tahun 1830 – 1930. Kondisinya tentu jauh berbeda dengan sekarang, kini sangat sulit bertemu dengan hewan liar seperti belibis, kijang atau macan. Meningkatnya aktivitas manusia di kawasan Semeru yang melebihi daya dukung alam juga berkontribusi terhadap semakin jarangnya satwa liar di kawasan Semeru. Saatnya menjaga kelestarian alam, sebelum edelweiss di Kali Mati hanya akan dijumpai pada cerita-cerita seperti kawanan kijang di jalur pendakian menuju Ranu Kumbolo

Sumber:

twit : @harleysastha

blog : http://sidaacuta.blogspot.com/2010/02/gunung-semeru.html

sumber foto: http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000009991365/foto-alboem-semeroe-tempo-doeloe-djaman-kolonial/

7 comments on “Sepenggal Kisah Semeru Tahun 1830 -1930

  1. Rheyzaurus Guevara
    December 28, 2012

    Mas yo, ak share di blogku ya..
    Hhhee…

  2. Pingback: Semeru Tempoe Doeloe (1830-1930) | Rheyzaurus World

  3. Kang Yoyok Mei
    August 19, 2013

    numpang share om …. mksh

  4. awi putra
    September 8, 2014

    miris dengan kenyataan sekarang yg sangat kontras perbedaannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 27, 2012 by in Gunung, rupa rupa, Sekilas Info, Semeru and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: