akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

halo Gie, ini tentang aku dan kamu


gie

Hari ini bertepatan dengan 63 tahun Tewasnya Gie di Semeru. Soe Hok Gie, atau biasa dipanggil Gie, merupakan nama yang tidak asing di kalangan para penggiat alam. Nasionalisme’nya tak perlu diragukan, kecintaan terhadap alam juga tak terbantahkan. Slogan patriotisme dan naik gunungnya hingga kini masih menjadi kutipan favorit para pendaki gunung.

Tulisan ini tak bercerita tentang Gie, karena sudah banyak buku yang membahas Gie. Cerita ini adalah tentang aku dan Gie.

Perkenalanku dengan sosok Gie dimulai pada medio 2001-2002. Kala itu ada sebuah kutipan Gie di forum sosial media. “Kami tak percaya pada slogan-slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau dia mengenal akan obyeknya. Dan mencintai tanah air indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenalkan Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”. Aku yang kala itu masih duduk di bangku SMU dan masih bangga dengan embel – embel predikat pencinta alam  yang melekat pada diri terpukau membacanya. Sayangnya, mesin pencari belum secanggih sekarang dan mash belum banyak tulisan tentang gie. Hanya sebatas itulah yang aku tahu, seseorang dengan nama tionghoa dengan slogan yang sangat menggugah jiwa, sangat nasionalis.

Loncat ke tahun 2004, akhirnya aku mendapatkan buku ” Catatan Seorang Demonstran”. Tentu bukan yang bergambar Nicholas Saputra karena kala itu belum terbit. Sebuah buku usang cetakan tahun 70an kalau tidak salah, masih menggunakan ejaan lama, hasil pinjaman dari seorang kawan yang juga memperoleh buku itu dari meminjam. Buku harian seorang Gie, sang idealis, aktivis, pencinta alam, sang  revolusioner. Saat itu aku menjadi ketua panitia ospek jurusan,dan membaca buku itu di selasar kelas sambil mengawasi jalannya ospek berasa sangat istimewa, seaka mendapat sebuah role model tokoh mahasiswa idealis.

Tahun 2005, muncullah film Gie. Walau tidak menggambarkan Gie yang 100% sesuai dengan adanya, tapi film tersebut mampu membangkitkan tulisan tulisan mengenai Gie. Dan sosok Gie makin dikenal luas, walau banyak yang menonton karena faktor Nicholas Saputra. Film ini lebih meperlihatkan sosok Gie sebagai mahasiswa idealis dan aktivis. Cerita mengenai hari-hari terakhirnya di Semeru tidak diekspos. Banyak yang bilang, film berdurasi dua jam ini membosankan, tapi aku malah menontonnya berkali kali, bahkan sampai membeli vcdnya. Sesuatu tentang Gie selalu terasa istimewa bagiku.

Tahun 2009, terbit sebuah buku “Gie, Sekali lagi. buku Pesta Cinta di Alam Bangsanya”. Buku yang berisikan memoar orang-orang terdekat Gie memberikan gambaran lain sosok Gie yang identik dengan sosok idealis, keras, tegas. Gie juga manusia, penuh canda, pernah bermasalah dengan hubungan asmaranya dan tak lepas dari kesalahan dan kenakalan.

Loncat ke 2011, akhirnya aku mengunjungi tempat favorit Gie, Lembah Mandalawangi. Walau perjumpaan dengan Lembah Mandalawangi cukup singkat, bahkan bisa dikatakan belum puas merasakan keindahannya, lembah tersebut menjadi salah satu lokasi sebuah peristiwa penting. Di situ aku diangkat menjadi anggota luar biasa MPA mahameru FIS UNY. Terasa sangat istimewa, tegap berdiri menghadap kumpulan edelweiss, dilantik di Lembah Mandalawangi, walau tidak sempat merasakan kabut tipis yang perlahan turun di lembah kasih tersebut.

lembah kasih

lembah kasih

Masih di tahun 2011, bulan Agustus, akhirnya aku mengunjungi Puncak Mahameru, tempat terakhir Gie menghabiskan hidupnya. Terasa spesial, karena saat itu, pendakian Semeru sangat sepi…dari Ranu Kumbolo-Puncak-Ranu Kombolo hanya ada rombonganku. Sebelum pendakian, berulang kali aku baca kronologi kejadian Desember 1969 yang ada di buku “Gie, sekali lagi”. Suasana pendakian yang sepi sedikit banyak membantu mengingat dan merekonstruksi kejadian 1969 dalam pikiran. Di puncak itu, tak ada riuh rendah pendaki, bahkan letupan jonggring saloka pun seakan ikut berdiam diri, kupandang tulisan di plakat memoriam itu:

Yang mencintai udara jernih

Yang mencintai terbang burung-burung

Yang mencintai keleluasaan & kebebasan

Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung

Mereka tengadah & berkata, kesana-lah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi

Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi

Sementara saputangan menahan tangis

Sementara Desember menabur gerimis

Ah Gie, bangsa ini masih membutuhkan orang-orang sepertimu.

3 comments on “halo Gie, ini tentang aku dan kamu

  1. Rheyzaurus Guevara
    December 26, 2012

    Mengharukan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 16, 2012 by in Catatan Pinggir, rupa rupa and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: