akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Kawah Ijen , sebuah catatan perjalanan


Perjalanan ke Kawah Ijen menjadi pengalaman solo backpacker kedua setelah Bromo dan hanya berselang satu minggu yaitu pada maret 2008. Rute yang kutempuh malang-Ijen adalah rute selatan. Memang lebih lama daripada rute utara, namun keinginan untuk mencicipi jalur selatan tak dapat dibendung. Perjalanan pun menjadi estafet, bermula dengan bus ekonomi Malang – Pasuruan, kemudian dilanjut dengan bus ekonomi Pasuruan – Jember, dan terakhir naik bus ekonomi Jember – Banyuwangi. Ya namanya estafet dan naik bus ekonomi pula, alhasil memakan banyak waktu, dan meleset dari rencana awal. Berangkat dari Malang jam 08.00 WIB, dan baru tiba di jember mendekati jam 16.00 WIB. Sedikit waswas karena khawatir kalau tiba di Banyuwangi malam hari maka angkutan umum akan sulit didapat. Seingatku, tiba di banyuwangi jelang magrib, sehingga masih ada angkot menuju sasak perot . Dari sasak perot menuju Pal Tuding dilanjut dengan menggunakan ojek. Ternyata ojeknya nda berani mengantar sampai Pal Tuding karena hari sudah gelap, mengingat jalan menuju pal tuding gelap dan sangat menanjak.

Akhirnya aku diturunkan di Kantor tempat Pengumpulan Belerang. Di sini juga terdapat truk yang digunakan mengangkut belerang. Awalnya bingung, akhirnya masuk ke kantor dan berbincang bincang dengan penjaga kantor. Cerita panjang lebar kenapa bisa terdampar di sini malam malam , akhirnya diijinkan menginap di kantor. Sebenarnya ceritanya sedikit mengarang bebas, yaitu menyusul rombongan teman yang sudah berangkat duluan, maklum masi ragu kalo bilang lagi jalan jalan sendirian. Acara ngobrol pun lanjut, hingga akhirnya ada kabar buruk, ternyata kedua truk pengangkut rusak, sehingga tak dapat beroperasi. Wah, bahaya ni. Setelah tanya tanya, ojek jarang ada, kalo pun ada tidak di pagi hari. Padahal mengejar mencapai kawah sebelum jam 9 guna menghindari asap belerang yang mengarah ke jalur pendakian. Mulai bingung dan memeras otak sambil ngobrol ngobrol, ternyata Pak ‘No, bapak mandor yang bertugas jaga malam di kantor besok pagi mau naik juga. Beliau menawarkan berangkat bareng. Puji Tuhan akhirnya masalah transportasi terpecahkan. Sebelum tidur, mampir ke toko kelontong depan kantor untuk membeli perbekalan buat esok. Sang pemilik warung bertanya koq sendirian, Cuma bisa jawab ya karena nda ada yang diajak. Pemilik warung langsung menawarkan agar aku nginep di rumahnya. Kutolak dengan halus karena sudah dapat tempat di Kantor Penambangan *sempat melirik ke dalam ada dipan kosong dan tv, lebih mewah daripada ruang depan kantor yang beralasankan koran*. Kembali ke kantor lanjut ngobrol ngalor ngidul dan akhirnya pamit tidur. Mengeluarkan SB Dody *yang kini entah kemana, dipinjem belum balik2*, mengatur koran koran sebagai alas dan langsung zzzzz

suasana tempat aku menginap

Pagi hari, segera bangun dan cuci muka *males mandi*. Segelas teh disajikan untukku, wah enaknya numpang di sini. Setelah berkemas, segera berangkat ke Paltuding diantar Pak ‘No. Ada keuntungan tersendiri diantar oleh Pak ‘No yang notabene’nya adalah Karyawan Pertambangan, aku tak perlu membayar karcis wisata yang saat itu kalo tidak salah seharga Rp. 15.000,-. Memasuki area perkebunan, pemandangan yang tersaji sangat indah. Dari ketinggian ini, bisa terlihat dengan jelas Selat Bali dan tentu Pulau Bali. Pak No pun memberikan kesempatan kepadaku untuk mengabadikan pemandangan ini dengan berhenti pada titik titik tertentu. Memasuki kawasan Perhutani/hutan, tersaji pohon pohon dengan usia yang cukup tua. Pakis setinggi dua 3 meter, pohon pohon berbatang besar, dan saudara saudaranya. Kesanku waktu itu adalah masuk ke dalam hutan Jurassic.

Pak’No, yang menjadi GPSku (Guide Penduduk Sekitar)

pakis – pakis raksasa ala Jurassic Park

Memasuki kawasan Paltuding, cuaca mendung dan berkabut. Sebagai pintu masuk menuju jalur pendakian ke kawah ijen, Paltuding memiliki fasilitas yang cukup lengkap, mulai lahan parkir yang luas, camping ground, wisma untuk rombongan wisatawan maupun yang untuk yang nda mau tidur di tenda, warung makan dan toilet. Terdapat beberapa gazebo untuk duduk duduk sambil menikmati kudapan yang nikmat. Setelah puas berkeliling singkat mengamati lingkungan Paltuding, lanjut memulai perjalanan. Pak ‘No pun menawarkan untuk jalan bareng karena beliau mau mengecek lokasi penambangan. Tentu aku terima tawarannya, lumayan ada GPS (Guide Penduduk Sekitar) buat nemenin perjalanan. 

ngeksis dulu

alan menuju kawah ijen cukup lebar, sekitar 2 meter. Jalur ini digunakan untuk para penambang mengangkut belerang dari kawah menuju Paltuding dengan cara memanggulnya. Cuaca mendung dan berkabut membuat suasana pendakian menjadi misty (tapi aku suka, daripada harus kepanasan). Sesekali terdapat pemandangan lembah dan perbukitan di sekitar kawah ijen. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya tiba di Pondok Bunder ketinggian 2214 mdpl. Pondok Bunder berupa bangunan tua yang memiliki langgam art deco (kayae). Ada reruntuhan tiang alat komunikasi. Mungkin dahulu digunakan sebagai pos pemantau.

Ada warung sebelum jalur pendakian akhir, namun tak dapat mengingat posisi aslinya, apakah berdekatan dengan pos bunder atau cukup jauh. Dari pos Bunder lanjut lagi menuju kawah. Jalur pendakian mirip zona sub alpine, hanya terdapat pohon pohon berukuran sedang. Butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk tiba di lokasi penambang, di dasar kawah. Cukup banyak pengunjung pada hari itu, karena bertepatan dengan hari raya Nyepi. Menjelang kawah, jalur berada pada igir igir. Pemandangan cukup menarik karena memperlihatkan kontur diding tebing. Untuk mencapai daerah tambang , harus menuruni tebing yang cukup dalam. Cukup melelahkan ditambah bau belerang yang cukup menyengat.

pos bunder

warung yang mengingatkan aku akan warung mbok yem di Lawu

Di dasar kawah, tambang belerang sudah dipenuhi orang, baik para penambang maupun wisatawan. Aku bertemu dengan rombongan wisatawan asing. Setelah berbincang ternyata mereka dari Austria. Salah seorang dari mereka bahkan sudah enam kali mengunjungi kawah ijen. Wah saya yang notabenenya ber-KTP Bali dimana jarak rumah ke kawah ijen sekitar empat jam malah baru kali ini ke ijen. Malu nih, kurang bereksplorasi di negeri sendiri. Rombongan turisz tersebut melanjutkan sesi foto foto sementara aku menuju ke penambang dan mengamati aktivitas penambangan. Penambangan belerang di sini tergolong tradisional. Uap belerang ditangkap dan dikumpulan dengan menggunakan pipa pipa besi. Dari ujung pipa, uap akan berubah menjadi cairan belerang. Penambang mengambil cairan belerang yang sudah membeku secara alami. Selain menambang, para penambang juga memanfaatkan belerang sebagai bahan membuat cinderamata. Belerang dibentuk menyerupai pohon yang kemudian nanti dijual kepada wisatawan.

rombongan wisatawan asal austria

Bekerja dengan udara yang dipenuhi sulfur memang tidak gampang. Seringkali kita menjadi sulit bernapas dan mata memerah. Namun ini adalah pilihan hidup penambang agar dapat terus memutar perekonomian keluarga. 

aktivitas penambang belerang

cinderamata karya penambang

Jelang siang, aku segera naik ke igir dan bersiap untuk turun. Singgah di warung untuk membeli minuman, disana banyak para pengunjung lainnya. Ada mahasiswa, keluarga, maupun warga asing (sepertinya bukan turis karena fasih berbahasa Indonesia dan memesan nasi goreng). Tak lama kemudian segera turun. Dalam perjalanan turun, bertemu dengan banyak pengunjung yang sedang naik. Salah satunya adalah seorang ibu ibu yang bertanya kepadaku menanyakan apakah masih jauh. Wah…sebenarnya, masih satu setengah jam waktu pendakianku untuk mencapai puncak, dan sang ibu terlihat sangat capai. Hanya bisa memberikan jawaban motivasi ala para pendaki (yang biasanya lebih memperdek waktu dan jarak sebenarnya untuk member semangat dan harapan).

perjuangan hidup

kawah

Sampai di gerbang pendakian, segera mencari warung dan membeli makan, foto foto sebentar lalu segera turun ke kota karena takut kemalaman dan susah mencari kendaraan. Pak No kembali mengantarkan hingga jalan utama di Bayuwangi sehingga aku mudah mendapatkan kendaraan. Ah, terima kasih banyak Pak No, atas tumpangan dan informasi yang diberikan selama perjalanan. Perjalanan Pulang ke Malang pun tetap menggunakan jalur selatan. Walau lama, tapi memberikan pemandangan yang segar karena tiap tahun selalu melewati jalur utara. Perjalanan ke ijen sebenarnya belum lengkap karena aku belum mengunjungi bendungan yang terletak di seberang tambang. Suatu saat akan kukunjungi .

tambahan:

dapet info dari forum, akses ke ijen (tahun 2011), semoga akurat

lalin ketapang – terminal blambangan tarip 4.000.
lalin terminal blambangan – sasak perot tarip 3.000.
lalin sasak perot – tamansari (desa LICIN) tarip 6.000 s/d 10.000.

JADwAL truck pengangkut belerang, tamansari – paltuding
0700 dan 1300 (selasa dan jum’at LIBUR) tarip seiklasnya

TARIP OJEK tamansari – paltuding WNI @ 50K dan WNA @ 100K
TARIP OJEK paltuding – ketapang WNI @ 75K dan WNA @ 200K
** untuk ojek naek arah paltuding baiknya dari tamansari

TARIP CHARTER mobil 4×4
oneday trip 450K kapasitas 6 orang
stay 1 nite 550K kapasitas 6 0rang

3 comments on “Kawah Ijen , sebuah catatan perjalanan

  1. nopan
    September 5, 2012

    emang kalo jalan sendiri ada kesan “wow”nya
    mampir kak k blogku😀

    • akuntomo
      September 8, 2012

      solo traveller never alone (kata orang orang sih gitu):D

  2. travelmalangindo@yahoo.com
    October 15, 2014

    Artikel yang sangat menarik untuk dibaca, ditunggu postingan selanjutnya.

    Dari Wisnu Transport, http://travelmalangindo.blogdetik.com/, Flexi 0341 542 1672

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 22, 2012 by in Gunung, Kawah Ijen and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: