akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

An Adventure Beyond the Ordinar-E


Setiap orang yang pernah mendaki bersamaku biasanya selalu bertanya “kenapa Wall-e?”, “mainan apa itu?” ataupun pertanyaan yang intinya apakah si Wall-e eksis terus dalam pendakian. Ya, dalam pendakian, aku selalu membawa Wall-E. Biasanya Wall-E kufoto di tempat-tempat yang ikonik seperti puncak atau pos pendakian yang terkenal misalnya Kalimati Semeru dan Pondokan Welirang. Namun terkadang juga lupa mengambil gambarnya karena kelelahan atau tergesa-gesa.

wall-e di puncak semeru

wall-e di puncak merapi

Sebenarnya membawa boneka, gantungan kunci, atau mainan kesayangan dalam perjalanan bukan hal baru. Sudah banyak juga yang melakukannya. Sebuah artikel di National Geographic Traveler edisi Juli 2010 pernah membahas hal ini. Dalam artikel tersebut, boneka kesayangan yang selalu menemani sang pemilik berkelana disebut sebagai maskot personalisasi diri atau personifikasi diri. Maskot tak ubahnya cap pribadi atau personal trade mark. Maskot dapat memberikan kesan yang unik dalam potret perjalanan. Bahkan, saat ini ada bisnis yang khusus menawarkan perjalanan sang maskot, seperti yang ditawarkan Teddy Tour Berlin. Boneka maskot akan diajak berkeliling Berlin, dipotret di destinasi wisata dan dipulangkan kepada pemiliknya dalam kemasan cantik bersama keping CD potretnya. Contoh lainnya adalah Toy Traveling di Praha dan Teddy Go To The Top di Swiss.

wall-e di lembah mandalawangi

Lalu, mengapa Wall-E yang kujadikan maskot? Ada beberapa alasan kenapa akhirnya Wall-E yang terpilih menjadi teman setia. Pertama, karena Wall-E tidak terlalu “pasaran”. Kalau maskotnya Shaun the Sheep mungkin akan banyak yang menyamai, jadi kurang ekslusif. Kedua, film Wall-E merupakan salah satu film animasi favorit. Film-film animasi karya Pixar memang special karena biasanya merupakan representasi dari fase hidup. “Bug’s Life” misalnya yang merepresentasikan ketika seseorang (anak) mulai meninggalkan rumah untuk memulai kehidupan baru dan “UP” yang bercerita tentang kehidupan usia senja. Karya-karya Pixar ini tak lepas dari sifat perfeksionis sang legenda Steve Jobs yang menginginkan film yang hidup, seperti yang tergambar dalam biografinya karya Walter Isaackson.

Wall-E di puncak Lawu

Ketiga, terkait dengan karakter Wall-E di film. Wall-E adalah pahlawan lingkungan. Tanpa harus menjadi robot yang memiliki kemampuan super, tidak harus memiliki laser beam atau solar furnace, Wall-E cukup melakukannya tugasnya yang sederhana, yaitu membersihkan sampah yang dijalani dengan konsisten dan persistent (ulet). Setiap orang bisa menjadi penyelamat lingkungan tanpa harus memiliki kekuatan “super”, cukup dengan melakukan hal hal kecil dengan konsisten. Wall-E mampu bertahan diantara “Wall-E” lainnya karena rasa ingin tahunya, kemampuan dan kemauan untuk belajar dari lingkungan sekitar. Leluhur kita terdahulu juga belajar dari alam, lingkungan sekitar sehingga mampu menghasilkan seuatu kearifan lokal yang adiluhung.

Lalu, kenapa nda mencari yang khas Indonesia sebagai maskot? Karena masih belum menemukan yang pas. Kalau da action figure semar atau gatot kaca yang bagus, Wall-E akan segera mendapat kawan perjalanan. Album perjalanan Wall-E dapat dilihat di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 22, 2012 by in Catatan Pinggir, rupa rupa and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: