akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Sundoro via Kledung -on fire-


Pendakian sundoro (banyak yang menyebutnya Sindoro) ini dalam rangka mengisi waktu libur panjang lebaran 2011. Pada awalnya pendakian ini kan berlangung pada H+2 lebaran , namun seiring dengan perubahan waktu Idul Fitri, pendakian ini akhirnya terjadi pada H+1 lebaran. Imbasnya tentu masih banyak warung atau toko yang tutup.

duo maut

Pendakian duo pertamaku adalah di Sundoro ini. Dengan berbekal pengalaman di semeru, aku dan Ignasius melakukan perencanaan pendakian yang lebih baik, mulai dari urusan makanan, pembagian barang bawaan dan koordinasi alat.  Dengan menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan menuju Sundoro tergolong lancar tanpa kemacetan panjang. Hanya saja untuk mencari warung nasi yang buka untuk makan siang sangat susah (banyak tempat makan yang buka, namun didominasi oleh bakso dan mie, sehingga Igna tidak mau mampir).

Sesampainya di basecamp pendakian Sundoro, ternyata cukup banyak pendaki yang akan muncak. Ada rombongan dari Jakarta yang baru tiba dan sedang beristirahat sebelum melanjutkan pendakian dan ada duo pendaki dari Bekasi yang akan berangkat (salah satu pendaki menggunakan excelsior dan trekking poles yang sama plek dengan punyaku). Aku dan Igna memulai perjalanan jam 2. Pendakian dimulai dengan menyusuri jalur makadam di tengah perkebunan tembakau. Terik matahari langsung menerpa kulit karena tak ada rindang pepohonan yang menaungi jalur. Di tengah perjalanan kami menjumpai duo bekasi yang berangkat lebih awal dari kami sedang beristirahat di tengah jalur perkebunan. Tegur sapa sebentar, lalu melanjutkan perjalanan (dan mereka masih beristirahat, sepertinya keberatan beban). Memasuki kawasan hutan jalur menjadi lebih menanjak dan berupa tanah. Pendakian kali ini menggunakan teknik “semeru style”, istirahat hanya pada pos atau selang waktu tertentu dengan durasi cukup singkat, sehingga pendakian lebih cepat. Sampai di pos I, kami hanya beristirahat sebentar, mengambil foto dan segera berangkat. Ritme langkah pun cukup cepat dan teratur. Melintasi hutan pegunungan dan akhirnya kami tiba di pos III. Ternyata kami tidak menyadari telah meliwati pos II. Pos III biasanya digunakan sebagian pendaki untuk berkemah sebelum summit. Terdapat sekelompok pendaki yang mendirikan tenda di sini. Sejenak beristirahat dan “nyenack” untuk mengisi kalori sebelum melakukan pendakian ke puncak. Apabila melakukan summit di sundoro, sangat dianjurkan untuk membawa seluruh peralatan (alpine style). Hal ini dikarenakan jalur Pendakian Sundoro cukup rawan pencurian, sehingga tidak disarankan untuk meninggalkan barang.

makadam yang panjang dan panas

mulai terjal

Dari pos III bisa dilihat puncak bayangan dengan jalur yang sangat menanjak. Dan dimulai lah pendakian menuju puncak. Jalur pos III menuju puncak dikenal pendaki sebagai jalur pendakian yang cukup sadis dengan tanjakan tanjakan curam dan tiga puncak bayangan yang sering mengecoh pendaki. Pendakian lumayan berat, dan tentu lebih berat bila dilakukan pada saat terik karena tak ada pohon peneduh. Untung saja kali ini dari pos tiga sudah senja. Di tengah tengah jalur aku memutuskan untuk beristirahat agak lama, mengingat pendakian “Igna style” hanya mengakomodasi istirahat sela sekitar 5 menit. Sambil “nye-nack”, dari ketinggian ini bisa dilihat perang kembang api di bawah sana. Mendaki pada saat lebaran ternyata ada istimewanya, bisa melihat perang kembang api antar kampung. Jarang-jarang bisa melihat pemandangan sperti ini ketika mendaki.

Puas beristirahat, lanjut menuju puncak. Di tengah pendakian bertemu beberapa pendaki yang sedang istirahat bahkan ada yang memutuskan untuk berkemah di flying camp/pos bayangan. Melewati satu dua puncak bayangan, aku tidak terlalu menaruh harapan mencapai puncak dengan cepat, hingga jelang puncak, aku kira masih merupakan pos bayangan. Di puncak sudah terdapat satu rombongan yangmendirikan tenda.Segera aku dan Igna mencari lokasi berkemah yang tepat, mendirikan tenda, dan mulai memasak. Kenyang, lalu tidur.

Esok harinya, ritual seperti biasa, menunggu sunrise, foto foto lalu menjelajah puncak sindoro. Keuntungan berkemah di puncak, menunggu dan melihat sunrise bisa dari dalam tenda sambil duduk dan minum minuman hangat. Puncak sundoro cukup luas dan terdapat sebuah kawah yang dikenal dengan kawah jolotundo. Sebelum erupsi akhir 2011, di kawah ini pada musim hujan terdapat genangan air yang cukup besar, biasanya dimanfaatkan pendaki untuk isi ulang perbekalan air. Pada puncak bagian utara terdapat tanah lapang yang cukup luas yang biasa disebut alun-alun. Sedikit menyesal karena saat itu tidak melakukan penjelajahan secara menyeluruh. Puas di puncak, kami memutuskan turun sebelum matahari kian terik (kalau tidak salah sekitar pukul 08.00 – 08.30 Wib.).

berkemah di puncak

ring of fire

berjalan menyusruni negeri di atas awan

Dalam perjalanan turun bertemu dengan banyak rombongan, baik rombongan yang kemarin kami jumpai maupun rombongan baru. Hal yang menarik adalah ketika selepas pos III bertemu dengan rombongan SMA (lupa dari daerah mana). Dengan air yang sepertinya menipis (terlihat dari botol botol kosong yang mereka bawa), mereka bertanya adakah sumber mata air di dekat tempat kami bertemu. Melihat kondisi mereka dimana terdapat sejumlah perempuan dalam tim, ingin menyarankan balik saja, daripada nanti dehidrasi dan akan menyusahkan tim bahkan pendaki lain. Tapi akhirnya memberikan jawaban sesuai pertanyaan, sumber air adanya di puncak, di kawah jolotundo, dan medan pendakian akan semakin panas, terjal dan curam. Semoga informasi tersebut mampu memberikan sedikan masukan untuk perjalanan mereka.

Jelang pos 2, kami berjumpa dengan pendaki dari bekasi, Bang Ajal (tepatnya dia menyusul kami). Setelah berbincang bincang, ternyata Bang Ajal berangkat sendiri dari Bekasi dan ikut rombongan dari Bekasi juga ketika melakukan pendakian. Situasi yang mirip dengan rombongan SMA tadi juga terjadi dengan rombongan bang ajal, persediaan air menipis. Karena hal itu Bang Ajal memilih turun sendirian tidak meneruskan pendakian. Kami kemudian bersama sama menuju basecamp. Saat melintasi jalan makadam di tengah perkebunan tembakau, melintas mobil pick-up pembawa sayur dan kemudian berhenti di depan kami. Sang sopir lalu mengajak kami naik ke mobil. Wah, ternyata menjelang akhir perjalanan ada bonus yang tak boleh dilewatkan. Dengan antusias kami segera naik (naik ke atas pick-up dengan ransel masih dipunggung ternyata tidak gampang). Senyum di wajah kami mendadak berkurang karena ternyata mobil tidak melewati jalur basecamp dan kami turun di jalan besar Temanggung – Wonosobo. Dari tempat diturunkan menuju basecamp sekitar 500 meter dan sedikit menanjak. Tidak apalah, lumayan bonusnya. Di Basecamp banyak pendaki yang akan naik maupun yang baru turun. Setelah istirahat sebentar, akhirnya balik ke jogja dan bang ajal ikut bersama kami karena hendak ke jakarta menggunakan kereta dari jogja. Dan mengemudi setelah pendakian pada saat H+2 bukanlah ide yang baik, karena lalu lintas padat merayap, sehingga butuh lebih dari 4 jam untuk tiba di Jogja.

“bonus” pick-upnya kebablasan, diturunin di jalan besar

Pendakian Sundoro salah satu pendakian dengan perencanaan dan pelaksanaan terbaikku (+1 karena banyak nyalip pendaki lain, hahaha)

2 comments on “Sundoro via Kledung -on fire-

  1. Edi Prayitno
    May 25, 2015

    mas, pernah denger ada orang gila yg meninggal disana ga? trims

    • akuntomo
      May 26, 2015

      alow, mas. Saya cuma taunya ada orang kurang waras di sindoro pas kemarin ada operasi SAR di sana. Cuma orangnya masi hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 7, 2012 by in Catatan Perjalanan, Gunung, Sundoro and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: