akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Jalur Pendakian Lawu Via Cetho


Jalur pendakian lawu via cetho merupakan alternatif bagi para pendaki yang ingin mencari suasana yang berbeda. Tidak seperti jalur Cemoro Sewu yang sudah menjadi jalur wisata yang ramai dan berupa undakan tangga dari batu, jalur cetho lebih alami dan cenderung lebih sepi.

Jalur Cetho dimulai dari candi cetho yang merupakan situs bersejarah (yang salah penanganan). Candi cetho masih digunakan sebagai tempat ibadah dan ziarah umat hindu. Di kawasan candi cetho masih terdapat taman Dewi Saraswati dan Candi kethek (yang akan dilalui ketika pendakian) yang dapat dijadikan tempat wisata sejarah dan budaya.

Jalur pendakian sendiri terdiri dari hutan pegunungan yang heterogen, hutan pinus khas pegunungan, dan sabana yang luas. Seringnya kabut menyelimuti jalur ini menjadikan pemandangan makin eksotis terutama di padang sabana. Tak heran beberapa pendaki menyebut jalur ini sebagai surga tersembunyi Gunung lawu.

Sumber air juga dapat ditemui di beberapa titik, yaitu pos III dan jelang pos IV (yang berasal dari pipa air minum) dan telaga menjangan di sabana (yang hanya ada pada saat musim hujan).

Medan pendakian jalur cetho bisa dikatakan gabungan antara Jalur Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang. Nanjaknya dapat, panjangnya juga dapat. Karenanya banyak yang menyebut jalur ini sebagai jalur yang cukup berat.

Akses Menuju Candi Cetho via Angkutan Publik

– Terminal Solo – Terminal  Karang Pandan   :  Bus Solo – Tawangmangu ( Rp. 6000,-)

– Terminal Karang Pandang – Terminal Kemuning : Angkutan Desa/bus kecil (Rp. 5000,- )

– Terminal Kemuning – Candi Cetho : Ojek (Rp. 10.000,-)

Jalur Cetho

Pendakian jalur cetho:

1. Start

candi cetho

Candi Kethek

Titik pemberangkatan jalur cetho tepat berada di candi cetho. Sebelum berangkat, umumnya melakukan perijinan di loket wisata candi cetho. Tepat di gerbang masuk terdapat rumah  salah satu relawan himalawu. Biasanya, para pendaki melakukan persiapan di rumah ini, untuk yang membawa motor juga busa menitipkan motor di ini. Pendakian dimulai dengan menyusuri komplek candi cetho menuju candi kethek. Di tengah perjalanan kita kaan menyeberangi sungai kecil yang pada musim hujan memiliki air yang jernih, sangat segar buat cuci muka.

2. Pos I

suasana di Pos I

Setelah menikmati wisata arkeologi, seletpas candi ketehk kita akan menyusuri perkembunan warga 500m sebelum berbelok menuju hutan. Mulai dari belokan ini medan sudah mulai menanjak. Jalur menuju pos 1 campuran antara jalur terbuka dan jalur kanopi dengan bagian kanan (selatan berupa lembah yang dialiri sungai. Kurang lebih 60 menit, kita akan sampai di pos I. Pada pos I terdapat shelter yang kondisinya sudah rusak. Tidak adanya perbaikan dikarenakan mernurut Sar Himalawu lokasi ini kurang aman karena rawan longsor sehingga tidak direkomendasikan sebagai tempat berkemah

3. Pos II

Pos II

Perjalanan menuju pos II hanya menemuh waktu 45 menit. Pos II berupa gubuk kecil dengan tanah datar yang cukup untuk 2 – 3 tenda ukuran 4 orang. Pos 2 dinaungi oleh dua pohon besar yang menjadi salah satu obyek foto favorit pendaki.

4. Pos III

Pos III ketika dalam perbaikan

Pos III merupakan tempat yang nyaman untuk beristirahat, terdapat mata air yang perasan dari pipa yang bias dimanfaatkan untuk minum bahkan mandi. Maret 2012 dibangun shelter baru yang berupa gubuk sederhana oleh himalawu. Gubuk sederhana ini cukup nyaman sebagai tempat beristirahat.

5. Pos IV

Pos IV

Pos IV berupa shelter sederhana. Sekitar 100 meter sebelum mencapai pos IV terdapat pipa air dengan lubang kecil yang dapat digunakan untuk mengisi persedian air pendaki.

6. Pos V

Pos V bulak peperangan

Pos V merupakan sebuah sabana yang diapit oleh 2 bukit. Konon di tempat ini dahulu terjadi pertempuran antara kerajaan Demak dan Kerajaan Majapahit. Di pos ini terdapat tugu perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa tengah.

7. Sabana

sabana hijau

Selepas pos V, kita akan melewati padang sabana. Jalur di padang sabana ini relativ datar, dan pada musim hujan terlihat seperti hamparan karpet. Terdapat sebuah kolam/telaga yang biasa disebut telaga tapak menjangan. Pada musim hujan, telaga ini berisi cukup banyak air, namun pada musim kering, tak ada air yang tersisa.

8. Pasar Dieng

batu batu yang terserak di pasar dieng

Pasar Dieng atau Pasar Setan, berupa prasasti batu yang berblok-blok,. Pasar Diyeng merupakan salah satu tujuan peziarah. Banyaknya batuan yang berserak cukup membuat kita kesulitan mencari jalur pendakian terutama pada malam hari. Jalur pendakian ditandai dengan batu batu yang disusun bertumpuk pada sisi-sisinya

9. Hargo Dalem

berbincang bincang di warung mbok yem

Hargo dalem konon merupakan tempat moksa Prabu Brawijaya V. Di Hargo dalem banyak terdapat gubuk tempat beristirahat dan juga area untuk berkemah. Selain itu, terdapat warung yang tersohor yaitu warung Mbok Yem yang menjual nasi pecel, nasi telor dan mie.

10. Hargo Dumilah (puncak 3265 mdpl)

tugu di puncak lawu

Puncak gunung lawu berada di Hargo dumilah. Puncak ini ditandai adanya tugu setinggi tiga meter.

4 comments on “Jalur Pendakian Lawu Via Cetho

  1. fajar
    June 18, 2012

    mau tanya.. jalurnya jelas apa ngga ya gan?
    untuk yang baru pertama kali kesana aman kah?

    • akuntomo
      June 25, 2012

      jalurnya lumayan jelas, percabangannya sedikit, maklum 80% menyusuri punggungan. Yang rada susah liat jalurnya cuma pas masuk pasar dieng aja. Yang penting persiapan fisik dgn peralatan aja.

  2. sabto
    September 17, 2013

    Mohon kejelasan ttg jarak antar pos dan rata2 waktu tempuhnya Ndan. nuwun

    • akuntomo
      September 17, 2013

      untuk jarak coba di-klik gambar jalur di atas, di bagian bawah gambar kalau di-zoom ada jaraknya, Kalau waktu relatif ya, tergantung kecepatan pendakinya. Kira kira dari candi cetho ke pos 1 = 1 jam,
      pos 1-pos 2= 1 jam,
      pos 2 – pos 3 = 1,5 jam,
      pos 3 – pos 4 = 1,5 – 2 jam,
      pos 4 – pos 5 = 1 – 1,5 jam
      pos 5 – hargo dalem = 1,5 – 2 jam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 2, 2012 by in Gunung, Jalur, Lawu and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: