akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Pangrango – berkunjung ke lembah Sang Legenda Bag.2 –


Jam 04.00 kurang (lupa tepatnya) Yudi yang tidur disebelahku segera membangunkanku. “mas..mas..bangun..jadi muncak nda?!!!”. Aku terbangun, melihat sekeliling ternyata hanya kami berdua yang bangun. Segera kami bangunkan yang lain, namun hanya Ari yang bangun. Mengingat waktu terkait jadwal kereta kepulangan, tak ada waktu lagi untuk menunggu yang lain bangun. Ketika berkemas, Igna bangun dan segera berkemas juga. Jadilah kami berempat yang melakukan perjalanan summit attack yang dimulai pukul 04.30 WIB Sepanjang perjalanan menuju puncak cukup banyak rintangan terutama pohon tumbang. Butuh gerekan membungkuk, merayap, melompat, memanjat untuk mencapai puncak. Di tengah perjalanan rombongan terpisah menjadi dua, aku yang membawa carrier berada di depan bersama Yudi, sedangkan Igna menemani Ari yang berjalan lambat karena lemas akibat sakit perut. Di tengah2 perjalanan aku meninggalkan coklat dan botol minuman karena kelompok dibelakang tidak membawa apa apa. Carrier sempat berpindah punggung, tapi hanya sementara, karena Yudi kelelahan ketika menggendong excelsior selama 30 menit. Hadeh…gmana ni yang muda muda, pada loyo semua…Sepertinya excelsior ingin di punggung pemiliknya terus. Pukul 07.00 WIB Aku dan Yudi tiba di puncak yang ditandai dengan tugu triangulasi. Pemandangan dari puncak pangrango tidak terlalu indah karena terhalang oleh lebatnya pohon. Tanpa berlama lama kami segera turun menuju Lembah Mandalawangi. Di Lembah Mandalawangi terdapat rombongan dari Jakarta yang berfoto ria, dan segera kami sapa. Ah akhirnya, aku menginjakkan kaki di tempat favorit Gie merenung. Selang tigapuluh menit ari dan igna tiba di lembah mandalawangi. Istirahat, ngobrol2 lalu mengabadikan gambar, kemudian Ari mengajak memulai upacara, upacara bendera sekaligus dalam rangka perayaan ultah dan juga upacara pengukuhan anggota luar biasa.  (hm..ingin tahu juga bentuk SK dan proses keluarnya SK, apa serumit dan sepanas penetapan anggota kehormatan di Bhuana Yasa nda ya)
Pukul 08.30 kami segera kembali ke Kandang Badak untuk bergabung kembali bersama teman teman lainnya.

triangulasi puncak pangrango

Perjalanan dari puncak menuju kandang lambat dilakukandengan santai karena kebutuhan dokumentasi. Dalam bayangan di kepala, di Kandang Badak akan beristirahat dan memenuhi kebutuhan kalori. Tapi bayangan tinggallah bayangan. Sesampai di kandang badak, tenda sudah dikemas, logistik hanya tersisa pembungkusnya, dan semua sudah memulai packing. Wah, sudah bersiap turun semua rupanya. Jam 11 .30 WIB, rombongan turun menuju basecamp, dan para summiters belum mengisi perut dengan kalori yang memadai (what the heck!!). Pada perjalanan turun kali ini cukup menyiksa, karena lututku mulai merasa nyeri. Akhirnya rombongan terbagi menjadi dua, rombongan ”ngetrek” dan rombongan ”ngesot”. Dan aku berada di rombongan ”ngesot” karena kaki dan pundak. Untung saja perjalanan kali ini tidak semembosankan perjalanan malan hari, karena bisa melihat keindahan hutan tropis yang lebat. Bahkan kalo beruntung, masih bisa melihat sekelompok owa Jawa yang berkegiatan di atas pohon. Sesampai di basecamp, pukul 16.00 WIB, istirahat sebentar dan membersihkan diri. Berdasarkan hasil tanya sana sini kepada sesama pendaki didapat info bus yang menuju ke Bandung via Tol Cipularang dengan waktu tempuh 2 jam. Cukup santai mendengar hal itu sampai akhirnya petugas TNGPP memberitahu tak ada waktu tempuh 2 jam lewat tol. Dan seketika semua terasa cepat…rombongan segera turun menuju pertigaan cibodas untuk mencari bus menuju ke Bandung…dan ternyata cukup sulit dan jarang. Hampir sejam berlalu, setelah tawar menawar dengan angkot yang tidak berujung pada kata sepakat, akhirnya lewat bus ekonomi menuju Bandung dengan tarif 4000 per orang. Pilihan jatuh ke bus itu dengan harapan bisa sampai Bandung sebelum pikul 20.00 WIB. Awalnya semua berjalan lancar hingga mendekati Tol Padalarang..kemacetan mulai terasa. Tampang tampang tegang mulai muncul.. Jam 7.30 kami tiba di Padalarang sekitar satu jam perjalanan dari Kota Bandung. Mengejar kereta yang akan berangkat setengah jam lagiKami dapat angkot, kepada kami sopirnya berjanji akan ngebut sengebut-ngebutnya untuk membantu kami mengejar kereta. Malam ini nampaknya akan menjadi malam tak terlupakan bagi kami. Kebut-kebutan di jalan tol hingga dalam kota. Tapi Malang tak dapat ditolak karena terjebak macet kami terlambat, kami tiba di stasiun ketika kereta baru saja berangkat beberapa menit yang lalu. Sopir kami perintahkan untuk ngebut lagi ke stasiun yang lain, d isana masih ada kereta, tetapi nihil dan akhirnya keinginan untuk pulang malam ini tidak tercapai. Cerita menarik seputar angkot adalah bagaimana kawan kami, Adiarto, mencoba berbasa basi kepada supir untuk mencairkan suasana namun dengan pertanyaan pertanyaan yang menurut kami bisa membuat bandung menjadi lautan api. Pertanyaan seperti ”dengar dengar, cewe sunda/bandung matre matre ya?” atau “katanya sopan santun orang sunda kurang ya dibanding orang Jawa”..Untung saja sang sopir tidak membakar kami hidup hidup, beliau cukup sabar meladeni pertanyaan polos nan lugu dari seorang Adiarto dan menjawabnya dengan cukup diplomatis…gosh…..

Akhirnya kami menginap di Stasiun Kiara Condong, Bandung tepatnya di depan WC stasiun itu. Lokasi yang dipilih adalah ruang lapang di depan WC (ntah sapa yang milih lokasi ini, lupa). Kami tidur berdesakan beralaskan matras diantara bau pesing dan lalu lalalng orang. Ito memisahkan diri dan memilih tidur di depan loket. Tempat kami tidur ini, kami lebih senang menyebutnya ‘Hotel Kiara Condong, hotel berbintang banyak, kamar mandi di dalam tempat tidur di luar’. Malam ini begitu banyak bintang terlihat dari Kiara Condong. Tinggal mengangkat kepala memandang langit, maka akan terlihat bintang. Jm 8 pagi ini ada kereta ke Jogja, yaitu Lodaya, kereta Bisnis Eksekutif. Meskipun jatah tempat duduk habis kami toh akhirnya rela membeli tiket ‘berdiri’, ah merasakan kelas bisnis rasa ekonomi. Delapan jam dalam perjalanan, kami memilih menggelar matras di depan WC karena terdapat ruang yang cukup (3×1 meter). Lumayan, daripada berdiri delapan jam. Ah setelah merasakan kereta ekonomi berasa bisnis pada keberangkatan, kini harus merasakan sebaliknya. Setidaknya tidak ada keterlambatan sehingga kami tiba di Stasiun Tugu Jogja pukul 16.00 WIB.

“hotel” kiara condong

Pendakian ini sebenarnya sudah memperlihatkan perlunya manajemen pendakian dan persiapan fisik yang memadai. Namun semua tertutupi oleh euforia mandalawangai. Dan kedepannya ternyata butuh dua pendakian lagi (lawu dan merbabu) untuk segera merubah manajemen pendakian pribadi yang masih amburadul , yang sebenarnya sangat mempengaruhi keamanan dan keselamatan pendakian.

Usia manusia memang sepenuhnya berada pada Kuasa Tuhan, namun bukan berarti kita mengabaikan faktor keselamatan. Mereka yang berani bermain main dengan faktor keselamatan sebenarnya sedang menawar kematian -matanadjwa-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 31, 2012 by in Catatan Perjalanan, Gunung, Pangrango and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: