akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Pangrango – berkunjung ke lembah Sang Legenda (bag.1)-


Pendakian gunung Pangrango (3019m) di Jawa Barat berlangsung pada minggu pertama Juli 2011. Persiapan dilakukan sejak 2 minggu sebelum keberangkatan, mulai dari penentuan tim, pembagian tugas, logistik serta transporasi. Tim Pangrango terdiri dari delapan orang, Ari , Ito, Adiarto, Toffan , Yudi, Ganggsar, Ignasius  dan aku sendiri. lima anggota tim (Toffan, Yudi, Ganggsar, Ito, Adiarto) baru aku kenal.  Mungkin dalam perjalanan ini aku laksana Rudi Badil yang mengikuti rombongan mapala UI ke semeru 42 tahun silam. Perjalanan direncanakan dilakukan dua hari dengan target utama puncak Pangrango dan Mandalawangi, dan Puncak Gede kemudian, dilakukan tanpa tidur (edaaan…rencana super ambisius yang minim persiapan dan perencanaan). Sebagai tamu, ya mengamini saja dengan memberi berbagai masukan guna memperlancar perjalanan.

Pengurusan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi )merupakan hal paling penting mengingat perijinan pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGPP) sangat ketat. Pengurusan simaksi dibantu oleh seorang teman Mapala yang tinggal di Jakarta. Setelah beres, kemudian mennetukan moda pemberangkatan. Pilihan jatuh kepada KA Malabar dengan pertimbangan waktu keberangkatan dan waktu tiba. Sedangkan untuk moda kembali ke jogja akan ditentukan kemudian setelah pendakian.

Perjalanan dimulai dari stasiun Tugu dengan jadwal keberangkatan kereta Malabar pukul 23. 45 WIB. Tim mulai kumpul pukul 22.00 WIB. Dan aku dan Ari datang paling akhir dengan sedikit telat. karena menyempatkan menonton film dahulu sebelum berangkat (benar benar telat untuk sesuatu  yang nda penting). Kereta tiba mendekati tengah malam. KA Malabar (Malang Bandung Raya) merupaka KA gabungan yang terdiri dari tiga kelas, eksekutif bisnis dan ekonomi (gerbong yang akan kami akrabi selama sembilan jam berikutnya). Sembilan jam yang membuat kaki pegal-pegal akhirnya berakhir di Stasiun Kota Bandung pukul 09.30 WIB. Perjalanan dilanjutkan menuju Terminal Telaga Lega dengan menggunakan bus kota (thx to Mas Andika yang sukarela menjadi penunjuk arah menuju tempat pemberhentian bus kota walau semalam suntuk terjebak diantara rombongan orang orang koplak). Dari Terminal Telaga Lega segera mencari bus menuju cibodas. Setelah terbujuk rayuan joki bus yang menyatakan hanya perlu 2 jam menuju cibodas akhirnya kami memilih bus ekonomi (lupa namanya). Sejam berlalu, ternyata bus masih berada di Kota Bandung coret…alamat ngaret sengaret ngaretnya. Ketika melaju di tanjakan Cipanas, mobil tiba tiba mogok. Alhasil estimasi waktu tempuh 2 jam menjadi 4 jam dalam pelaksanaannya.

saling himpit di malabar

Jika sampai pukul 4 sore kami belum tiba di Kantor Taman Nasional. Dapat dipastikan ekspedisi ini gagal. Namun pada detik-detik terakhir kami beruntung. Pukul 16.30 kami tiba dan segera mengurus perijinan. Walau kantor sudah tutup pukul 16.00, kami terselamatkan sebab toffan memiliki no kontak petugas TNGPP sehingga perijinan masih bisa dilakukan. Setelah mengurus perijinan dan melakukan packing ulang, dengan menitip baju ganti di kantor TNGPP Cibodas.

Pukul 17.00 WIB perjalanan dimulai. Dari basecamp hingga pos 1 didominasi oleh jalan batu/makadam. Pada kawasan ini masih menjadi obyek wisata yang seing dikunjungi orang karena terdapat telaga biru, dan jalan menuju air terjun ciberum. Awal perjalanan kita dapat menjumpai kekayaan alam TNGPP seperti pohon rasamala yang memiliki diameter batang lebih dari satu meter, rotan badak (Plectomia elongata), pandang cakuang (Pandanus furvatus), rotan ragas (Calamus adsperus) dan masih banyak lagi.  ketika hari mulai gelap kami telah sampai di rawa gayonggong. sebuah tempat yang indah namun agak terasa mistik berselimutkan kabut tipis. Jalan di Rawa Gayonggong berupa jembatan kayu (board walk) dimana perlu memperhatikan langkah karena lantai kayu sudah lapuk (karena usia dan juga kualitas kayu yang rendah). Kabarnya Rawa Gayonggong ini adalah daerahnya macan tutul (panthera pardus) yang menurut keterangan dari pihak taman nasional memang masih ada beberapa ekor yang hidup secara liar di kawasan taman nasional Gede-Pangrango ini.

Tidak perlu berlama-lama kami segera meninggalkan Rawa Gayonggong menuju ke Panyangcangan. Disini terdapat pertigaan, dari arah kedatangan bila mengambil jalur ke kanan akan sampai di Air Terjun Cibereum, jalur ke kiri menuju ke Puncak. Hari semakin gelap sehingga selama perjalanan praktis tidak bisa mengamati secara detail keadaan sekitar. Kondisi diperparah dengan medan yang berupa hutan lebat. Sehingga perjalanan hanya fokus pada jalur pendakian agar tidak salah jalan (walau sepertinya tidak mungkin  salah jalan mengingat jalur yang sangat jelas) dan tidak terperosok. Salah satu hal menarik pada perjalanan malam ini adalah keberadaan kunang kunang yang sangat banyak di hutan ini. Bila senter dimatikan, terlihat kunang kunang berterbangan, setidaknya ini menjadi pengganti lukisan bintang yang terhalang oleh tajuk hutan. Sisanya, perjalanan mengarah membosankan. Di tengah tengah perjalanan, ari mulai merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Ritme mulai melambat..membosankan dan lambat.

Ketika benar-benar mulai jenuh akhirnya kami tiba di sungai air panas. Sebuah sungai dengan debit aliran yang cukup besar, mengalir menuruni lereng. Tepat disebelahnya ada jurang yang dalam sehingga untuk keamanan pendaki dibuatkan tali pegangan. Aku dan Ari lepas dari rombongan, melewati air panas meninggalkan rombongan yang masih beristirahat. Rencana awal untuk mencari tempat pembuangan isi perut. Pendakian malam ini mulai terasa sulit. Selain karena tubuh yang mulai lelah, jalanan juga hampir tak terlihat karena air sungai yang menguap menghalangi pandangan, terlebih penerangan yang kami gunakan berasal dari ampu L.E.D. sehingga sinar putih yang dihasilkan tidak mampu menembus uap dan membias. Dan sungai air panas ini benar benar panas. Lepas dari itu kami kembali memasuki hutan belantara. Terkadang nyali terasa ciut.

Ketika kami nyaris putus asa (karena bertambah lagi anggota yang mengalami gangguan yaitu toffan yang mengalami kram), akhirnya kami tiba di Kandang Badak, titik percabangan menuju ke Puncak Gede (kiri) dan Puncak Pangrango (kanan). Kami membangun camp di sini. Suasana gelap dan kondisi badan yang lelah menyebabkan kami tidak dapat menemukan sumber air. Hal ini cukup mengganggu karena air banyak dihabiskan di perjalanan shingga persediaan air menipis. Dengan asumsi berangkat subuh untuk summit attack maka tak ada waktu untuk mencari air lagi sehingga air harus dihemat. Akhirnya kami hanya memanaskan nasi yang dibeli di Cibodas dan sarden, dengan pertimbangan penghematan air. Ari, yang lemas, tidur duluan di tenda tanpa makan. Sisanya, makan rame rame. Kondisi lelah menyebabkan tak ada kordinasi untuk summit attack. Aku dengan status sebagai tamu merasa aneh, tapi nda enak juga kalo mengajak mereka berkoordinasi. Akhirnya semua mulai mengambil tempat. Berhubung dome hanya muat 5 orang, maka tiga orang terpaksa tidur diluar, dan orang orang itu adalah Aku, Yudi, dan Igna. Tak apalah tidur diluar, mengingat Kandang Badak masih dikelilingi pohon besar sehingga tidak ada hembusan angin yang kencang. Sejenak memandangi taburan bintang dari celah celah tajuk pohon sebelum mata terpejam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 31, 2012 by in Catatan Perjalanan, Gunung, Pangrango and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: