akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Merbabu via Wekas -pendakian massal-


Pendakian kali ini sedikit berbeda, karena sebagai penutupan acara pendakian 6 summits ultah MPA Mahemeru, pendakian dilakukan secara massal. Tercatat lebih dari 25 orang turut serta dalam pendakian ini. Inilah pendakian massal pertamaku.

Pada awalnya, aku akan ikut rombongan mengendarai truk menuju basecamp Wekas. Namun detik detik akhir rencana berubah, aku dan ari mengandarai motor. Tiba di basecamp wekas pukul 16.00 WIB, tidak berbeda jauh dengan rombongan truk. Sembari menunggu peserta yang belum tiba, panitia memesan makanan di basecamp…dan tentu saja Sego Ndok, khas Mahameru. Dengan bahan bakar tradisional dan kultur Jawa di pedesaan yang lambat…alhasil maghrib hidangan baru siap disantap..holaa….dan pendakian tetap dilakukan malam hari..padahal berharap bisa dimulai sore hari…..

Rombongan dibagi menjadi tiga yang masing masing dipandu oleh peserta yang sudah pernah mendaki. Aku dan Ari ikut rombongan terakhir, yang mana sebagian besar baru pertama kali mendaki. Pendakian dimulai pukul 19.30 WIB, dan sebentar sebentar sudah ada sesi photo, diikuti break….jalan sebentar diikuti break…begitu seterusnya…aku dan Ari mengobrol sepanjang perjalanan dan tak terasa sudah sampai di Pos 3, tempat bermalam sebelum puncak. Dan kali ini, seperti dua puncak sebelumnya, tidur beratapkan bintang. Namun kali ini, sebagai senior, ada keisitmewaan, ada mi instan dan kopi yang siap disajikan. Wah asik juga, nda perlu repot-repot. Setelah ngobrol ngalor ngidul, semua mulai istirahat. Kali ini, langit sangat cerah, sehingga gugusan bintang terlihat sangat jelas..tidur sambil ditemani ”honeymoon on ice” the trees and the wild sangat cocok dengan suasana..Sebelum tidur, kami sepakat untuk bangun pukul 01.45 WIB.

mas…mas..bangun….ayo muncak muncak”..terdengar igna membangunkanku. Hm..perasaaan alarm ponselku belum bunyi..berusaha mngacuhkannya tapi igna tetap berjuang terus membangunkan..hadeh….untuk meyakinkan, kulihat jam tangan..aih,,.ternyata masih 01.15 WIB!!! ..dan igna pun tiba tiba tertawa “oh, maaf mas..aku lupa kalo jamku kecepetan, tidur lagi aja mas”. Argh..pengen dilempar sepatu ni anak, udah sepakat n masang alarm pake acara kepagian. Dan ternyata gangguan tidak berhenti, igna masih sibuk mencari sarung SBnya, mengangkat ransel yang aku jadikan bantal, mengarahkan senter ke muka…mengangkat matrasku…argh….sepertinya sudah pantas dilempar ransel 55 liter ni anak….hadeh…..dengan segala gangguan akhirnya alarm berbunyi..huks..tidur berkualitasku terpotong 30 menit gara gara jam igna yang kecepatan 20 menit….
Setelah melakukan packing, kami bersiap menuju puncak. Melalui diskusi kecil rombongan kan dibagi tiga, aku, igna, dan ari akan mengibarkan bendera di puncak kenteng songo, sedangkan rombongan pendaki massal akan muncak di puncak syarif. Pendakian cukup cepat karena mengejar matahari terbit. kejadian yang menggelikan adalah ketika selepas jembatan setan, kami memilih jalur atas…yang ternyata lebih setan dari jembatan setan sedangkan jalur bawah laksana tol bebas hambatan. Jalur atas melewati punggungan/igir igir, dimana pada tengah tengah jalur terdapat batu besar. Belum lagi harus turun dengan merayap rayap di tebing. Jalur menuju puncak kenteng songo lebih sulit dibanding puncak syarief.
05.30 WIB, tiba dipuncak dimana sudah terdapat pendaki lain yang menanti terbitnya surya. Dan seperti biasa, momen ini diisi dengan sesi foto foto. Di Puncak ada seorang remaja kedinginan yang meminta difotokan dengan kameranya. Wah ternyata ni anak pendaki solo. Dan udah dipuncak dari jam 04.30Wib. ckckck.. apa nda membeku ditengah sepi ni anak.
sSesi foto selesai, dilanjutkan dengan menyetok kalori tubuh untuk turun. Kali ini tidak masak, namun sudah mempersiapkan makanan istimewa, kentang goreng (dingin) dan burger. Hahaha dan nutrijel serta klengkeng tentunya. Di saat menikmati sajian, tiba tiba di punggungan setan terlihat sosok yang dikenal. Ternyata anggita datang menyusul ke puncak syarif bersama yeni. Dan konyolnya, dia ditinggal rombongan besar karena menunggu yeni yang istirihat karena pusing, namun salah menyusul ke puncak kenteng songo, bukan ke syarif. Konsekuensinya, semua bendera dan spanduk terpusat di kenteng songo. Halah…

Ketika kami berlima hendak turun, setelah puas foto foto, dua orang lagi menyusul ke puncak, vita dan sigit. Lha koq baru muncak…piye tho? Bakalan molor ni ke basecampnya. Mereka berdua ditinggal dipuncak, dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju pertigaan batas administrasi (lupa namanya) untuk memasang plakat memoriam sahabat kami alm. simuh. Sesampai di pos 3. Ternyata rombongan besar sudah packing dan sedang menikmati istirahat mereka. Menunggu lama dua orang yang tertinggal di puncak..akhirnya diputuskan rombongan besar untuk turun duluan. Rombongan kenteng songo menunggu vita dan sigit tiba baru memulai perjalanan ke basecamp wekas

Perjalanan turun diwarnai nyeri pada lutut kanan..dan seperti biasa ditemani igna yang juga ngesot..jam 2 sampai di basecamp…dan ternyata rombongan besar juga baru tiba dengan rentang waktu yang tidak terlampau jauh. Usut punya usut, ternyata mereka nyasar ke desa tetangga…

Pendakian massal yang “menarik”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 29, 2012 by in Catatan Perjalanan, Merbabu and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: