akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Lawu via Cetho -tahun baru caka 1934-


Pendakian kali ini sebenarnya cukup mendadak karena pada awalnya mau mendaki Gunung Sumbing. Berhubung salah satu teman tidak bisa, dan aku malas mendaki sumbing berdua saja, kualihkan pendakian ke lawu via cetho, berhubung pendakian sebelumnya via cetho hanya sampai ke pos 5. Pemilihan lawu juga mempertimbangkan Lawu sebagai salah satu tempat ziarah terutama bagi umat Hindu (berhubung temanku dari Bali, Gek An,  ingin merayakan nyepi di gunung)

Perjalanan dimulai dari Jogja pukul 06.00 WIB menggunakan kendaraan pribadi. Sebenarnya Ingin mencoba angkutan umum, tetapi berhubung mengejar waktu pendakian maka diputuskan untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi. Pukul 09.00 WIb tiba di Candi Cetho. Perijinan di sini cukup mudah, hanya meninggalkan KTP (jika turun via cetho kembali) atau Contact Person jika turun melalui jalur lain. Biaya yang dikenakan Rp.3000 per orang (sesuai tiket masuk Candi Cetho).

Pemandangan kebun teh kemuning di jalur menuju candi cetho

Sebelum pendakian, menyempatkan diri untuk mampir ke candi cetho berhubung rekan mau bersembahyang dahulu. Bertepatan dengan libur Nyepi, berada di tempat wisata dengan ransel 55lt cukup menarik perhatian para pengunjung. Penjaga Loket sempat memberi tahu bahwa sebelum kami terdapat rombongan mapala dari unnes yang sedang melakukan kegiatan. Jumlahnya sekitar 25 orang, satu jam lebih awal dari kami. Hm..berarti jalur nda sepi ni…

Selepas cetho, berjalan melintasi lembah dengan sungai yang jernih, kami tiba di candi kethek, awal pendakian gunung lawu via cetho. Candi kethek mirip dengan candi sukuh, Berbeda dengan candi cetho yang sudah mengalami pemugaran “illegal” tanpa mengindahkan prinsip prinsip eskavasi arkeologi, candi kethek masih memiliki bentuk asli yang menyerupai candi sukuh (berbentuk piramida).

Pendakian dimulai dengan melewati perkebunan warga kemudian memasuki area hutan. Kecepatan langkah pendakian kali ini cukup santai, karena (awalnya) memang tidak ingin tergesa gesa mencapai hargo dalem. Sesampainya di pos 1, terdapat tiga orang penduduk lokal yang sedang beristirahat. Mereka beristirahat setelah mengambil kulit pohon damar (?). Pada bagian kanan (selatan) pos I, terdapat sungai yang mengalir di antara lembah yang dalam. Dari kejauhan dapat dilihat secara samar sebuah air terjun. Lebatnya tumbuhan di sekitar tebing menyulitkan kita untuk melihat wujud air terjun secara utuh. Terdapat jalur yang menuju lembah, namun dilihat dari kondisi jalur, sepertinya jarang yang melaluinya

Selepas pos 1 jelang tengah hari, baru terasa teriknya matahari… ritme langkah mulai tak teratur, keringat mengucur dan….lapar….wah daripada lemas, kuputuskan untuk istirahat di pos 2 sambil masak makan siang. Sebenarnya males berhenti di pos 2 karena auranya tidak menyenangkan (kata orang), tapi berhubung aku sangat buruk dalam hal merasakan hal hal seperti itu, masak makan siang pun dijalani dengan tenang dan santai dengan menu spaghetti bolognaise. Menikmati makan siang dan istirahat, ternyata cukup banyak menghabiskan waktu, hampir satu jam, dan terasa sangat cepat, beda dengan perjalanan yang terasa sangat lama.

Master chef beraksi di pos 2

Berkemas dan melanjutkan perjalanan menuju pos 3 dengan ingatan yang kabur. Aku menginformasikan terdapat sumber air sebelum pos 3, haha yang kemudian salah. Sepanjang perjalanan, banyak dijumpai pohon yang dikuliti bahkan ditebang. Hm.. miris juga kalau laju penebangan seperti ini, lama lama pohon pohon besar akan habis. 50 menit dari pos 2 kami sampai di pos 3. Ternyata di pos 3 terdapat rekan rekan himalawu yang sedang memperbaiki shelter. Area pos 3 yang sempit pun habis karena kegiatan mereka. Hm..diputuskan untuk terus melanjutkan perjalanan tanpa singgah di pos 3.

Pos 3 yang sedang direnovasi oleh SAR Himalawu

pohong – pohong ynag ditebang “liar”

Di tengah perjalanan kembali melihat sekelompok elang (alap2?) yang sedang terbang. Di kawasan lawu ini sering sekali melihat kawanan burung ini. Sepertinya habitat mereka masih terjaga, dan sumber makanan masih dapat dijumpai. Sejenak menyaksikan seekor elang yang terbang rendah menuju lembah di sisi kanan jalur pendakian. Hiburan alam yang menarik. Perjalanan menuju pos 4 berubah dari terik menjadi mendung, awan pembawa hujan mulai bergerak cepat dari arah utara. Suara angin terdengar sangat keras karena jalur pendakian tepat berada di tepi lembah yang merupakan terowongan angin. Tak lama selepas pos 3 hujan mulai turun, ah daripada resiko baju basah, mengingat target tempat nge-camp masih jauh, diputuskan segera memakai jas hujan. Hujan ringan menurutku lebih menyenangkan dibandingkan harus mendaki dengan cuaca terik.

Mendekati pos 4, kami beristirahat di pipa bocor untuk mengisi ulang air. Mengisi air perlu teknik khusus karena pada dasarnya ini adalah pipa air yang diberi lubang kecil pada bagian atas, jadi harus bersabar menunggu limpahan air yang keluar melalui lubang ada. Sayup sayup terdengar suara orang yang berbincang. Ternyata ketika sampai di pos 4, kami bertemu dengan sebagian rombongan Unnes yang sedang beristirahat ditemani dengan anggota Himalawu. Di pos 4 ini dimanfaatkan dengan menambah kalori melalui asupan snack. Berhubung shelter sudah dipenuhi oleh rombongan unnes, jadi kami tidak berlama lama di pos 4 dan melanjutkan ke pos 5.

“nye-nack” dulu di Pos 4 sebelum lanjutkan perjalanan

Menuju pos 5, hujan mulai reda, namun masih ditemani rintik tintik air dan kabut. Sesampai di cemoro kembar, seperti biasa menyempatkan diri berfoto foto ria, lalu lanjut melewati jalur yang cukup datar. Jalur ini dipenuhi pohon yang cukup besar dan tua, dan bila ditemani kabut tipis, serasa melewati hutan di middle earth. Sebelum tiba di pos v, ada sebuah bukit dengan tanjakan yang cukup menyiksa dengkul yang harus dilalui. Untung saja, langit mulai cerah, sehingga kami mendapat bonus pemandangan yang cukup memberikan kesegaran. Tiba di bulak peperangan, terlihat di tanjakan dusta (mirip seperti tanjakan cinta sadisnya) deretan rombongan Unnes yang lain. Sambil menunggu kemacetan di tanjakan tersebut, kami berisitirahat sambil berganti kostum. Jas hujan dilepas, berganti jaket dan mulai mengenakan headlamp, karena senja mulai tiba. Di padang rumput telaga menjangan hari mulai, gelap, wah gawat juga kalo lewat pasar dieng gelap gelap, karena jalur yang tidak terlihat jelas. Langkah mulai dipercepat untuk mengejar rombongan Unnes, dengan maksud, kalo nyasar di pasar dieng setidaknya rame rame, hahaha. Akhirnya jelang pasar dieng, bertmu dengan rombongan besar Unnes dan berjalan bersama hingga hargo dalem. Sesampainya di Hargo Dalem, awalnya ingin memasang tenda satu area dengan rombongan Unnes (lekmapala FT Unnes), tapi ketika mereka mulai memasang tenda, wah tendanya besar besar. Dengan sadar diri akhirnya pindah tempat, dengan menggotong tenda yang sudah berdiri, untung ada yang bantu ngangkat.

suasana “middle earth” yang mistis di lembah antara cemara kembar dan posV

Tenda sudah berdiri dilanjutkan dengan makan malam. Sembilan jam jalan nonstop cukup menguras tenaga sehingga ingin segera memejamkan mata tanpa menikmati malam di luar. Suhu udara malam itu (diukur dari dalam SB, cukup nyaman). Dengan jaket polar flight series + jaket luar crax dipadu dengan SB eiger, suhu menjadi hangat. Berbeda cerita dengan gek yang kedinginan semalam suntuk. SB karimornya memang tidak didesain untuk suhu gunung 3000m. Pelajaran juga sih, jangan memilih SB karena kecil (ringkes) dan murah.

memasak kentang rebus, menu makan malam (yang tidak mengugah selera)

Esok hari ternyata ;langit cukup berawan, sehingga mentari fajar tak terlihat kelas. Kalo gini masup tenda lagi enak. Setelah mempersiapkan sarapan pagi, dilanjutkan dengan berkemas karena rencananya summit attack sambil membawa semua barang dan langsung turun melewati jalur yang sama.

lengkapnya fasilitas di Hargo Dalem. Selain ada warung Mbok Yem, tiang jemuran berserta talinya pun tersedia.

telur mata sapi, sarapan kali ini

Dari Hargo Dalem menuju puncak membuthkan waktu setengah jam, dan tentu saja berhubung long wiken, puncak cukup ramai dengan pendaki. Sesampai di atas, untuk mengabadikan gambar di depan tugu harus antri, karena semua pendaki selalu mengambil gambar di depan tugu. Cuaca yang cerah dan kabut yang belum tiba di puncak membuat pemandangan menjadi lapang untuk dinikmati. Jajaran gunung sumbing sindoro, merapi merbabu terlihat jelas di barat. Di sisi timur terlihat si kembar arjuno welirang dan wilis. Puji Tuhan masi diberi kesempatan untuk menikmati cipataanNya yang indah ini. Tragedi terjadi setelah sesi pemotretan. Tanpa sengaja kamera terjatuh, dan body kamera terbentur cukup keras sehingga merusak mekanis lensa T_T. akibatnya kamera tak dapat digunakan. Yah, keinginan mengambil banyak gambar di sabana pun tak tercapai. Setengah jam waktu yang kami habiskan di puncak, selain karena semakin banyak pendaki yang tiba di puncak, juga mengantisipasi hujan saat perjalanan turun. Umummnya hujan turun selepas tengah hari.

di 3265 mdpl

Sebelum memulai perjalanan turun, kami menyempatkan mampir ke warung Mbok Yem, membeli teh anget dan berbincang bincang dengan pendaki (diiringi lagu pembuat teh-nya nugi seperti klop nih). Cukup banyak pendaki yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya, dan pada umumnya mereka melalui jalur cemoro sewu (karena jalur cemoro kandang ditutup akibat badai). Setelah puas menikmati teh hangat kami segera turun kembali melalui jalur cetho.

bersosialisasi di warung mbok yem

Perjalanan turun via cetho cukup menyulitkan karena jalurnya licin. Kami berkali kali kepeleset, bahkan trekking pole bengkok karena menahan beban tubuhku yang terpeleset. Karena hal inilah aku menghindari turun dalam keadaan hujan (dengan cara berangkat lebih awal). Sampai di Cetho, foto foto sebentar langsung balik ke jogja

Lawu via cetho memang menyenangkan, jalurnya yang masih cukup alami, tanjakan yang mantap dan sabana yang aduhai akan terus menggoda untuk mencobanya kembali.

5 comments on “Lawu via Cetho -tahun baru caka 1934-

  1. inten_arsriani
    June 2, 2012

    dan saya janji pada diri sendiri nda akan nyusahin orang kalo mendaki (diulang 100x)
    #tp tetep belum nemu SB baru#

  2. inten_arsriani
    June 4, 2012

    Reblogged this on an ~ alogiku and commented:
    this is it…finally, catpernya muncul juga dari rekan seperjalanan saya, hehee…punya saya nda muncul-muncul sih, jadi sementara bisa gunakan catper n blog ini untuk referensi jalur yaaa…

  3. jiwa senja
    September 13, 2013

    sesekali silahkan mencoba jalur ngawi bang..😀

    hehe via giri mulyo kecamatan jogorogo kab. ngawi

    • akuntomo
      September 13, 2013

      wah, maunya sih gitu, tapi sayangnya, susah sekali mencari info tentang jalur jogorogo. Mungkin masbro mau berbagi info tentang jalur jogorogo?😀

    • riyanto
      October 2, 2013

      mas, mohon pencerahannya dunk jalur via jogorogo…kami ada rencana naek via cetho turun via jogorogo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 29, 2012 by in Catatan Perjalanan, Lawu and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: