akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Lawu via Cemoro Sewu -tertatih tatih-


Pendakian pertama gunung lawuku terjadi pada pertengahan juni 2011. Gunung Lawu terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untukku sendiri, Lawu begitu memiliki kedekatan, karena hampir tiap tahun aku selalu melihatnya. Pada saat menjadi tenaga ahli perencanaan partisipatif di Karanganyar, aku dan rekan TAPP lainnya bersama Asisten Kota sempat berencana mendaki Lawu Bareng, namun karena waktu itu bulan Desember, ditunda hingga intensitas hujan mulai berkurang. Namun sayang, Intensitas hujan yang berfluktuasi serta intensitas tekanan kerjaan yang memuncak dan memancing emosi sana sini, rencana tersebut tinggal rencana.

Pendakian pertama di lawu ini menjadi pendakian yang penuh pembelajaran. Pendakian yang dilakukan seminggu setelah pendakian Pangrango ini dilakukan dengan minimalis, dalam artian kelengkapan yang dibawa. Berbekal pengalaman tidur beratapkan langit dan berdindingkan hutan, kami memutuskan untuk tidak membawa tenda, dengan asumsi di kandang badak aja kuat tidur di luar. Aku yang juga masih dalam masa pemulihan fisik memutuskan mengurangi beban, dengan tidak membawa sleeping bag (bodohnya). Praktis di ransel ukuran 55 itu hanya ada pakaian dan makanan minuman (mubasirnya ukuran ransel yang besar)

Jalur yang dipilih adalah Cemoro Sewu, karena kemudahan pencapaiannya. Beranggotaan lima orang, 4 cowok (aku, Ari, Anggita, Igna) dan 1 cewek (Susan), lepas tengah hari kami berangkat dengan kendaraan pribadi. Memasuki Karangpandan, langit hitam tampak menutupi lereng Lawu, tentu hal ini membuat waswas. Jelang magrib, kami mampir di Pasar Tawangmangu, untuk Ishoma. Menu makan malam kali ini, Sego Endok…(khas mahameru).

Pukul 19.00 WIB kami tiba di basecamp Cemoro Sewu. Puji Tuhan, cuaca cerah diterangi cahaya purnama. Setelah melakukan persiapan, setengah jam kemudian pendakian dimulai. Sebelum berangkat tiba tiba ada seorang pendaki solo yang minta ijin ikut rombongan. Ternyata pendaki yang berasal dari Medan ini sedang estafet mendaki gunung. Sebelumnya sudah mendaki Semeru, Tambora, Rinjani, Arjuno, Kerinci, dll. Wah wah wah

Awal perjalanan cukup menyenangkan, karena terang bulan purnama sehingga kondisi medan dapat dilihat dengan jelas. Namun melewati pos 1, sekitar lutut mulai bermasalah. Dan makin lama makin parah…. Bahkan untuk ditekuk sangat sakit…dan selanjutnya…pendakian penuh perjuangan dan penderitaan dimulai. Selama 5 jam berjuang melawan rasa sakit pada sendi lutut. Untung saja pendakian kali ini banyak istirahatnya (kami sepakati ini atas permintaan Susan), mungkin 3 menit berjalan, 5 menit break, benar benar terselamatkanlah diriku..jam 01.20 WIB akhirnya kami tiba di Sendang Drajat. Sudah banyak pendaki yang bermukim di sana. Segeralah kami mencari tanah lapang untuk tempat bermalam. Pendakian kali ini tidak membawa tenda, dan aku tidak membawa SB, maksud hati meringkan beban carrier. Dan itu bukan keputusan yang tepat, karena udara dingin di ketinggian 3000m mampu menciptakan embun es. Hal positifnya, lumayan buat cerita gaya-gayaan…tidur di dekat puncak Lawu hanya berselimutkan ponco.

“tenda” minimalis

Summit Attack

Pukul 04.30 WIB, suasana mulai ramai, banyak pendaki yang sudah bangun dan menanti terbitnya surya. Melawan rasa malas, akhirnya diriku keluar dari tempat tidur yang sebenarnya sangat tidak nyaman. Menanti surya mulai pukul 05.00 WIB adalah kesalahan karena matahari baru muncul jam 6 kurang. Hasilnya…Ngantuk dan menggigil selama sejam, Setelah menikmati karyaNya yang agung .. perjalanan summit attack segera dipersiapkan. Dari Sendang Drajat menuju puncak cukup singkat, tidak sampai satu jam, sehingga kami memutuskan untuk memasak di sekitar puncak Lawu. Gunung Lawu terkenal akan udara dinginnya. Dan hal ini terbukti ketika di perjalanan menuju puncak, masih terdapat embun embun es yang dijumpai di rerumputan. Pukul 07.00 WIB, kami tiba di puncak. Puncak Lawu ditandai dengan adanya tugu yang dibangun oleh kopassus dan disponsori oleh perusahaan alat tulis Kiky (pantas saja pembalap muda indonesia, Rio Haryanto sering mendaki Lawu untuk menjaga staminanya). Puncak Lawu silih berberganti didatangi oleh pendaki. Sesi foto-foto terpaksa ditunda menunggu sepi arena.. dan peralatan masak pun dikeluarkan. Makan makan cukup heboh di puncak Lawu..segela logistik dikeluarkan, mulai dari nasi, kornet, mie, energen, roti, susu, pisang, nutrijell, klengkeng,,hahaha benar benar pembalasan pnedakian pangrango yang miskin kalori. Sesi foto2 segera dimulai ketika suasana mulai sepi…dan Pukul 08.00 pun turun…

Iring-iringan menuju puncak

Tua muda berbaur di puncak

foto bersama

masak masak di puncak

Perjalanan turun sama menyiksanya dengan perjalanan naik karena sendi lutut masih nyeri, hasilnya waktu tempuh naik = waktu tempuh turun. Kondisi jalur yang berupa tangga batu memperparah sakit di dengkul. Yang memberi semangat hanyalah pertemuan dengan pendaki lain terutama yang telah berusia lanjut. Bahkan ada rombongan dari SBY yang dilihat dari penampilannya berusia 45tahun ke atas..ah ternyata mereka sedang melaksanakan reuni SMA di Lawu. Belum lagi di overlap penduduk lokal yang akan berjualan di puncak..wah wah

Kabut yang menyertai perjalanan turun dari awal hingga akhir

Pukul 14.00 akhirnya tiba di basecamp,sejam kemudian segera balik ke jogja. Pendakian kali ini merupakan pendakian dengan perjuangan melawan rasa sakit terberat…dari awal hingga akhir. Dari sini mulai terpikirkan dengan benar bagaimana manajemen perjalanan dan teknik pendakian yang benar. Pendakian Pangrango sakit pundak karena salah melakukan pengaturan ransel, di lawu menggigil karena salah perencanaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 29, 2012 by in Catatan Perjalanan, Lawu and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 42 other followers

Follow akunto[MO]untain on WordPress.com

Blog Stats

  • 100,808 hits
%d bloggers like this: