akunto[MO]untain

celotehan pendaki amatir

Mahameru, Sebuah Kisah Perjalanan (Bagian 3: Puncak!!!)


Hari ketiga, kami bangun jam 03.00 WIB, suasana malam hari begitu senyap…tak ada gemerisik pohon, tak ada angin, tak ada gempa tremor, tak ada suara letusan. Tentu pagi ini aku berharap pendakian puncak juga setenang malam tadi. Sambil mengumpulkan semangat kami membuat sarapan, energen dan susu. Pukul 04.00 WIB,  mulailah perjalanan summit attack kami. Ransel yang dibawa hanya satu, ranselnya Okky karena ukurannya paling kecil, dengan barang barang berupa jas ujan dan air (1,5 liter sepertinya).

Perjalanan di hutan berjalan lancar dengan jalur yang minim bonus dan berada di antara jurang. Di perjalanan saat itu masih ada memoriam para pendaki yang tewas di Semeru. Cukup sebagai pengingat agar berhati-hati dalam pendakian. Sampai di batas vegetasi, jalur terakhir menuju puncak Mahameru terlihat meski samar samar…tanjakan super tajam dengan pasir yang dalam menanti kami.

Pada tanjakan inilah trekking pole sangat bermanfaat. Sangat sulit untuk mendapatkan pijakan kaki yang stabil, sehingga bantuan tumpuan dari trekking pole sangat membantu pijakan. Menapaki medan pasir mahameru memang memerlukan tenaga ekstra. Tingkat kelerengan yang tinggi, medan pasir yang tebal dan ketinggian yang membuat oksigen semakin menepis tak pelak menjadi tantangan tersendiri. Pukul 05.30 WIB, kami telah mencapai cemoro tunggal. Pohon cemaranya sendiri sudah tumbang. Di sini Eko sudah terlihat sangat letih, kondisi fisiknya menurun drastis. Jarak istirahat makin cepat dengan durasi makin lama.

Aku, yang setia jadi ekor rombongan :D

Aku, yang setia jadi ekor rombongan :D

Eko, yang mulai kelehan di Cemoro Tunggal

Eko, yang mulai kelelahan di Cemoro Tunggal

Matahari mulai muncul di ufuk timur. Wah perjalanan masih panjang dan matahari sudah mulai menampakkan diri, siap-siap diterpa panas cahaya sepanjang perjalanan nih. Aku menemani Eko, Igna dan Okky berada di depan. Trekking pole kuserahkan ke Eko untuk menghemat tenaganya. Ternyata naik tanpa bantuan trekking pole cukup menguras energi. Kecepatan pendakian makin berkurang. Selang beberapa waktu..ransel pun berpindah ke pundakku. Air minum juga semakin menipis. Terus terang, perhitungan kami melenceng jauh. Perkiraan sebelumnya dari batas vegetasi sampai puncak tak lebih dari 2 jam ternyata meleset jauh. Ini juga berdampak terhadap ketersediaan air yang kami bawa ke puncak. Perjalanan makin lama, air makin menipis dan semangat mulai luntur.

Sang Surya mulai muncul di ufuk timur

Sang Surya mulai muncul di ufuk timur

Eko yang mulai tertatih-tatih

Eko yang mulai tertatih-tatih

Pemandangan dari atas

Pemandangan dari atas

Letusan Jonggring Seloka   pukul 07.00 WIB

Letusan Jonggring Seloka pukul 07.00 WIB

Melewati Pukul 07.30, kondisi Igna makin menurun. Eko sudah terseok-seok di belakang, Okky masih di depan. Igna mulai berkeluh kesah, terutama masalah rencana yang melenceng. Wah, aku makin merasa bersalah, karena ide berangkat jam 4 adalah rencanaku. Igna mulai memadamkan niatnya mencapai puncak dan mengajak turun. Air yang menipis, kondisi fisik yang drop dan kekhawatiran akan angin yang mengarah ke utara makin menguatkan niat igna untuk turun. Sekitar jam 08.00 muncul diskusi kecil untuk menentukan naik terus atau turun. Aku tentu memilih untuk terus menuju puncak, sangat disayangkan kalau perjalanan yang sudah sejauh ini harus diakhir tanpa menyentuh puncak Mahameru. Akhirnya aku tawarkan perpanjangan waktu, kalau sampai jam 08.30 tidak mencapai puncak, barulah kita semua turun. Aku berspekulasi dengan perkiraan 30 menit mencapai puncak, namun jika dilihat dari medannya, sepertinya puncak sudah tidak jauh lagi. Langsung aku mengambil alih rombongan, melaju ke atas secepat mungkin. Aku dan Okky meninggalkan jauh Eko dan Igna di bawah. Harus cepat–cepat sampai di puncak, karena hanya itu yang bisa menambah semangat Eko dan Igna. Dan Puji Tuhan, ternyata puncak memang dapat dicapai pada pukul 08.30 WIB. Tentu saja senangnya bukan main, teriak-teriak ke bawah untuk memberi tahu ngesoters…..

Puncak Mahameru begitu sunyi…tak ada letusan jonggring saloka yang terkenal itu, tak ada pendaki lain. Hanya kami berempat yang berada di tanah tertinggi Pulau Jawa ini. Dan tentu saja, ritual di puncak segera dimulai. Berisitrahat sebentar kemudian segera melakukan sesi foto. Langit cerah, dari puncak dapat melihat jajaran puncak-puncak lainnya.

Puncak yang sepi

Puncak yang sepi

Berpose di Plakat Gie dan Idhan Lubis,  Yang kini sudah diturunkan

Berpose di Plakat Gie dan Idhan Lubis, Yang kini sudah diturunkan

Mahameru di Mahameru

Mahameru di Mahameru

The Puncakersss

The Puncakersss

Tak terasa kami menghabiskan waktu 40 menit di puncak….dan tanpa letusan…… Dan akhirnya memutuskan turun. Okky dan Eko didepan dan aku dan Igna Di belakang. Tepat saat aku akan turun, muncul letusan Jonggring Seloka (walau skalanya kecil dibanding letusan normal yang sering difoto oleh para pendaki) Cepat –cepat mengabadikan momen ini, maklum, tak lengkap rasanya jika tidak berpose di sini. Perjalanan turun menuju batas vegetasi cukup singkat, hanya 50 menit. Cuaca cerah sangat membantu kami mengenali jalur sehingga tidak melenceng (kadang kabut menyebabkan pendaki mengambil arah ke sisi kanan dan berakhir di Blank 75). Perjalanan ke Arcopodo juga cukup cepat, dan aku setia menjadi ekor. Dalam pikiran kami, masih ada air lebih dari 1,5 liter yang ada di Arcopodo. Bayangan akan segarnya air membasahi kerongkongan membuat kami semangat mencapai Arcopodo. Dan ternyata pikiran kami itu salah…..

bersama letusan Jonggring Seloka

bersama letusan Jonggring Saloka

sand skating

sand skating

Setiba di Arcopodo, segera kami mencari botol air…dan ternyata hanya tersisa botol 600ml. Tentu ini sangat mengecewakan. Eko sudah keletihan, dan Igna sepertinya mengalami dehidrasi ringan, kalau diajak bicara nda nyambung blas. Tak ingin berlama-lama berisitirahat di Arcopodo karena tak ada air, pukul 11.00 WIB kami segera turun. Igna yang biasanya berjalan bersama aku kini ngacir di depan. Sepertinya air di Kalimati yang kali ini pasti masih tersedia menjadi penyemangatnya. Aku tentu saja setia jadi ekor. Sampai di Kalimati, segera menegak air yang berlimpah,membuka logisitik yang kami tinggal di Kalimati, dan sejenak beristirahat. Di Kalimati ini barulah rasa lega kami rasakan kembali. Isitrahat cukup panjang hingga pukul 15.00 WIB kami mulai meninggalkan Kalimati. Kali ini kembali ke formasi awal. Okky dan Eko di depan, aku dan Igna di belakang. Di Cemoro Kandang kami tertinggal cukup jauh karena aku dan Igna berjalan santai dan sempat memanen Ciplukan di tengah perjalanan. Kali ini perkiraan kami tepat, karena kami tiba kembali di Ranukumbolo ketiga Maghrib. Segera kami mencari tempat berkemah yang paling representatid, yaitu di dalam pondokan. Tak ada pendaki lain di Ranu Kumbolo, hanya penduduk sekitar yang sedang mencari ikan saja. Segera kami mulai mendirikan tenda dan masak, lalu tidur menunggu esok hari untuk menikmati keindahan Ranu Kumbolo.

Bersambung…..

Sebelum meninggalkan Kalimati

Sebelum meninggalkan Kalimati

oro-oro ombo

oro-oro ombo

So, so you think you can tell

Heaven from Hell

Blue skies from pain

Can you tell a green field

From a cold steel rail?

A smile from a veil?

Do you think you can tell?

How I wish, how I wish you were here

We’re just two lost souls

Swimming in a fish bowl

Year after year

Running over the same old ground

(Wish You Were Here – Pink Floyd)

About these ads

5 comments on “Mahameru, Sebuah Kisah Perjalanan (Bagian 3: Puncak!!!)

  1. johanesjonaz
    February 28, 2013

    keren! Selamat… bisa mengerti alam mahameru :)

    • akuntomo
      February 28, 2013

      makasih,om. beruntung banget bisa naik Mahameru pas sepi nih

  2. Cikoblog
    March 4, 2013

    Bro, mau tanya klo ke puncak mahameru, tas besar/berat dititipkan kemana ya? berapa liter air yg hrs dibawa untuk perjalanan kalimati-puncak-kalimati? Ditunggu update kisah Mahameru bagian-4 ya.. Thanks.

    • akuntomo
      March 4, 2013

      biasanya tas besar ditinggal di tenda arcopodo/kalimati. Sejauh ini jarang ada kejadian kemalingan. Kalau mau aman, bawa gembok buat ngunci resleting tenda. Air bawa @1,5 liter aja, tapi ya tergantung tingkat ketahanan fisik juga. Hoho terima kasih mau menunggu Mahameru #4, sedang mengumpulkan niat untuk mnyelesaikannya :D

  3. Pingback: Mahameru, Sebuah Kisah Perjalanan (Bagian 2: “..sendiri..”) | akunto[MO]untain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 27, 2013 by in Catatan Perjalanan, Gunung, Semeru and tagged , .
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers

%d bloggers like this: