Cantigi


Bagi kalangan pendaki, tentu sudah familiar dengan cantigi. Cantigi (Vaccinium varingiaefolium) memiliki beberapa nama lokal seperti Suwagi (Jawa Barat), Manis Rejo (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Kalimuntiang (Sumatra Barat) dan Deliam Montak (kalimantan). Cantigi termasuk tanaman pioneer kelas 1 karena memiliki ketahanan yang tinggi terhadap segala kondisi dan lahan kritis dengan kondisi ekstrim.

Cantigi dapat ditemui pada ketinggian 1500 mdpl ke atas. Umumnya Cantigi yang kutemui berada pada ketinggian 2000 mdpl ke atas pada zona sub-alpin, dan juga menjadi penanda sudah mendekati kawasan puncak. Pohon yang umumnya berukuran kecil (1 – 2 meter ini) memiliki akar yang mencengkram kuat sehingga sering digunakan pendaki sebagai pegangan untuk mendaki di daerah yang terjal. Akar yang kuat ini juga membuat cantigi tahan dari terjangan badai. Para pendaki biasanya memanfaatkan kumpulan pohon cantigi sebagai tempat perlindungan dari badai.

cantigi di merbabu

Daunnya berukuran kecil dengan warna hijau dan merah. Perpaduan daun berwarna merah muda dan batangnya yang merah kecoklatan memberikan keindahan dalam pendakian. Buah cantigi berwarna hitam dan berbentuk bulat seperti beri. Daun muda dan buah cantigi memliki khasiat layaknya tanaman obat. Daun muda diyakini dapat digunakan sebagai obat untuk deman dan penyegar badan, sedangkan buahnya yang berasa manis sepat dapat dikonsumsi sebagai penambah nutrisi bagi pendaki. Cantigi juga menjadi sumber makanan favorit fauna . Keberadaan cantigi dapat meningkatkan populasi hewan pencari sari bunga maupun burung pemakan buah. Di merbabu dan lawu sering kujumpai anis gunung yang bertengger di cantigi.

Sayangnya, cantigi masih kalah populer dibandikan dengan edelweiss. Cantigi seharusnya dapat dijadikan filosofi bagi pendaki maupun setiap orang dimana kita harus mampu menghadapi segala kondisi, kuat, serta memberikan manfaat bagi siapa saja yang ada di sekitar kita.

referensi : http://www.enclaveconservation.com/cantigi-vaccinium-sp.html

About these ads